Raja-Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Diancam 10 Tahun Penjara

"Negara kita adalah negara hukum. Pertama-tama kita akan mempelajari aspek legalitas," kata Kapolda Jateng.

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 15 Jan 2020 11:23 WIB

Author

Adi Ahdiat

Raja-Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Diancam 10 Tahun Penjara

Gapura komplek Keraton Agung Sejagat, Desa Pogung Jurutengah, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (14/1/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta- Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menangkap Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) pada Selasa petang (14/1/2020). Toto dan Fanni adalah orang yang mengaku sebagai Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. Kedua orang ini belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Menurut juru bicara Polda Jawa Tengah Iskandar Fitriana Sutisna, mereka dijerat Pasal 14 UU No. 1/1946 tentang larangan menyiarkan atau memberitakan berita bohong dengan sengaja yang membuat keonaran di muka umum.

“Ancaman hukuman 10 tahun penjara,” kata Iskandar, seperti dilansir situs Humas Polri, Selasa (14/1/2020).

Kapolda Jawa Tengah Rycko Amelza Dahniel mengaku sudah menugaskan intelijen dan reserse kriminal umum untuk menyelidiki Keraton Agung Sejagat.

"Kami ingin mengetahui motif apa di balik deklarasi keraton tersebut. Negara kita adalah negara hukum. Pertama-tama kita akan mempelajari aspek legalitas," " kata Rycko kepada Antara, Selasa (14/1/2020).

Menurut keterangan resmi Humas Polri, Toto dan Fanni sudah dibawa ke Polres Purworejo untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.


Keraton Agung Sejagat Memberi Harapan Alternatif?

Keraton Agung Sejagat adalah 'kerajaan' yang dibangun Toto Santoso di Desa Pogung Jurutengah, Purworejo, Jawa Tengah.

Toto mengklaim keratonnya itu merupakan penerus dari Kerajaan Majapahit, dan sudah memiliki sekitar 450 orang pengikut.

Menurut Rissalwan Habdy Lubis, sosiolog dari Universitas Indonesia, Keraton Agung Sejagat ini mirip dengan sekte atau aliran kepercayaan baru.

"Saya kira ini bentuknya sama seperti sekte keagamaan, hanya wujudnya dia buat lebih kepada formal, ada simbol-simbol berupa negara atau kerajaan," terang Rissalwan kepada Antara, Selasa (14/1/2020).

Rissalwan menduga, Toto dan ratusan pengikut Keraton Agung Sejagat 'membungkus' aliran kepercayaan mereka dengan simbol-simbol kerajaan agar tidak dituduh sesat atau menista agama.

Rissalwan juga memandang Keraton Agung Sejagat bisa mendapat banyak pengikut karena mampu memberi harapan perubahan politik-ekonomi alternatif bagi masyarakat akar rumput.

"Mereka mencari alternatif-alternatif lain dan itu suatu hal yang wajar. Jadi itu bercampur baur dengan orang yang mungkin punya keyakinan bahwa dia punya akses supranatural tertentu," jelas Rissalwan kepada Antara, Selasa (14/1/2020).

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabat Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11