NUSANTARA

Tomat, Sawi, Kubis dan Cabai Rusak Kena Abu Merapi

""Kami juga meminta ke petani agar panen lebih cepat agar tanaman tidak rusak," jelasnya."

AUTHOR / Anindya Putri

Merapi
Ilustrasi - Warga melintas di dekat lahan tembakau yang terdampak abu vulkanik Merapi di Babadan, Magelang, Jateng (16/8/2021). (Foto: ANTARA/Aloysius Jarot N)

KBR, Semarang - Dinas Pertaniam dan Perkebunan Jawa Tengah menyatakan, 1.675 hektar lahan pertanian di Magelang terdampak hujan abu vulkanik Gunung Merapi.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Distanbun Jateng, Fransisca Herwati mengungkapkan, ribuan hektar lahan pertanian tersebut merupakan jenis tanaman hortikultura.

"Tanaman hortikultura ya terdampak hujan abu, ya rusaknya karena abu terlalu tebal dan ada pasirnya. Kalau yang kriteria ringan terkena abu tapi tipis. Kalau yang ringan, kemarin sudah menyampaikan ke warga kalau bisa disiram air agar tidak merusak proses fotosintesis," ujar Herwati, Rabu (16/3/2023).

Dijelaskannya, komoditas tanaman terdampak hujan abu vulkanik itu antara lain tomat, sawi, kubis dan cabai.

Lanjut Herwati, dampak kerusakan dikategorikan menjadi tiga yakni ringan, sedang dan berat. Rinciannya, tanaman yang masuk kategori rusak berat hanya 282 hektar dari 1.600 hektar.

"Kami juga meminta ke petani agar panen lebih cepat agar tanaman tidak rusak," jelasnya.

Baca juga:

- Erupsi Gunung Merapi, 5 Wilayah di Jateng Terdampak Abu Vulkanik

- BPBD Jateng: Abu Vulkanik Merapi Ganggu Pernapasan

Herwati mengklaim, pihaknya saat ini tengah mengajukan bibit hortikultura ke Direktorat Jendral Tanaman Hortikultura Kementerian Pertanian untuk petani yang mengalami kerugian akibat abu vulkanik erupsi Gunung Merapi.

"Karena adanya keterbatasan dana, kami ajukan bibit ke Kementerian Pertanian untuk bibitnya," imbuh Herwati lagi.

Editor: Fadli

  • Merapi
  • Tomat
  • Erupsi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!