INDONESIA

Terombang-ambing di Antara Dua Budaya: Orang Afghan di Eropa

"Hampir dari seluruh tentara internasional dijadwalkan meninggalkan Afghanistan pada Desember 2014. Ini membuat warga Afghanistan dihantui rasa takut akan kembalinya Taliban setelah tentara internasional pergi."

AUTHOR / Shadi Khan Saif

Terombang-ambing di Antara Dua Budaya: Orang Afghan di Eropa
Orang Afghanistan di Eropa, Orang Afghanistan yang tinggal di luar negeri, penyebaran orang Afghanistan

Hampir dari seluruh tentara internasional dijadwalkan meninggalkan Afghanistan pada Desember 2014.

Tetapi ranjau darat  dan serangan dari Taliban sampai saat ini terus menghantui.

Warga Afghanistan bahkan dihantui rasa takut akan kembalinya Taliban setelah tentara internasional pergi.

Ini artinya kemungkinan ada banyak warga Afghanistan yang meninggalkan tanah air demi  mencari kehidupan yang jauh lebih baik.

Waslat Hasrat Nazimi yang berusia 25 tahun ini telah tinggal di Jerman selama 20 tahun.

Orangtuanya memutuskan pergi dari Afghanistan setelah perang sipil meletus pada 1990an.

Sekarang dia adalah jurnalis di sebuah media Jerman. Dia telah menyaksikan membludaknya jumlah imigran Afghanistan ke Eropa

“Ada generasi pertama yang datang ke sini, meninggalkan semua yang Anda miliki di tanah air, prestise atau kesempatan yang bisa diraih di tanah air. Anda terpaksa meninggalkan tanah air karena situasi keamanan. Kemudian ada generasi muda, yang saya rasa berada terombang-ambing di antara dua budaya yaitu, budaya Jerman dan budaya Afghanistan. Generasi ini dengan susah payah berjuang untuk mencari jalan tengah dan ini sangat sulit. Mereka bukan orang Afghan, bukan juga Jerman.”

Orangtua Waslat punya pendidikan yang cukup tinggi dan cukup beruntung dapat berimigrasi ke Eropa secara legal.

Namun ada banyak warga Afghanistan yang harus menghadapi banyak resiko dengan melintas batas secara ilegal lewat Pakistan, Iran, Turki dan Yunani.

Baryalai Arghousi yang berusia 24 tahun adalah contoh imigran ilegal yang banyak ditemui.

Dia sudah mencari suaka selama 6 tahun belakangan, tinggal di asrama bagi pencari suaka. Ia hidup dari dana bantuan dari pemerintah Jerman.

Dia masih menunggu permohonan suakanya dikabulkan.

“Setiap malam saya selalu mengkonsumi tiga butir obat tidur agar saya bisa tidur dengan nyenyak. Jika saya masih tidak bisa tidur, saya akan minum pil anti depresi. Inilah kehidupan di Eropa. Di tanah kelahiran saya, rasa-rasanya saya tidak pernah minum obat penghilang rasa sakit, tetapi sekarang berbeda.

Diperkirakan ada lebih dari 100 ribu warga Afghanistan di Jerman.

Warga Afghanistan menggelar festival musik dan puisi setiap tahun untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya kepada generasi muda.

Namun tinggal ribuan mil dari kampung hal membuat mereka kesulitan menjaga identitas budaya.

Banyak sekali generasi muda Afghanistan yang lebih akrab dengan budaya Barat dan tak bisa bicara dalam bahasa ibu mereka.

Pakar bahasa Pekhawry Shinvari secara rutin membuka kelas bahasa Pashto untuk warga Afghanistan di Jerman... tapi hari ini tidak ada yang datang.

“Seorang penyair, Khushal Khan pernah berujar, orang Pashtun itu seperti dinding batu yang kokoh. Seberapa kerasnya pun Anda mencoba untuk mengubahnya, akan sangat sulit bagi orang Afghan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Saya selalu minta kepada orangtua untuk mengirim anak-anak mereka ke kelas Pashtu yang digelar dengan gratis ini, tapi mereka tidak anggap ini penting. Tapi saya tidak akan menyerah.”

Di lapangan kriket, Muhammad Assad adalah satu-satunya warga Afghanistan yang berhasil lolos seleksi team kriket nasional Jerman tahun ini.

Dia adalah inspirasi bagi generasi muda Afghanistan yang ada di luar negeri.

“Banyak kaum Afghanistan yang terinspirasi karena saya dan memulai bermain kriket.. membentuk klub mereka sendiri. Saat ini saya masih duduk di bangku SMA dan saya bercita-cita untuk sekolah setinggi mungkin.”

Rahimullah Faqir yang berusia 29 tahun telah tinggal di Jerman selama 6 tahun.

Ia berjualan barang elektronik di pasar terbuka dan dia sangat rindu kampung halaman.

“Tanah air itu tidak tergantikan...Anda tak bisa mengganti tanah air dengan negara lain, meskipun negara lain itu adalah negara terbaik di dunia. Tapi kami sudah di sini dan kami harus menghadapi semua perbedaan budaya dan tantangan sosial.”


  • Orang Afghanistan di Eropa
  • Orang Afghanistan yang tinggal di luar negeri
  • penyebaran orang Afghanistan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!