BERITA

Survei Google: Orang Indonesia Tanya Apa Pun Pada Smartphone

"Penetrasi smartphone di Indonesia saat ini sebesar 43 persen."

AUTHOR / Citra Dyah Prastuti

Veronica Utami didampingi Simon Kahn dan Jason Tedjasukmana dari Google Indonesia (Foto: Google Indo
Veronica Utami didampingi Simon Kahn dan Jason Tedjasukmana dari Google Indonesia (Foto: Google Indonesia)

KBR, Jakarta – Google baru saja merilis hasil survei terbaru dengan judul Consumer Barometer 2015. Dalam riset yang rilis untuk kali kedua di Indonesia, sorotan utamanya adalah pada penetrasi smartphone yang kini mencapai 43 persen. “Ini terjadi peningkatan 15 persen dibandingkan tahun lalu,” kata Veronica Utami, Head Marketing Google Indonesia kepada KBR di kantor Google Indonesia hari ini, Selasa (4/8/2015).

Menurut Veronica, pendorong utama adalah semakin murahnya harga smartphone sehingga semua orang, dari berbagai lapisan ekonomi, bisa memakai smartphone. Dari penetrasi yang meningkat ini, muncul pula perilaku online yang baru.

Smartphone sudah integral dalam kehidupan orang Indonesia. Jadi orang Indonesia saat ini, apa pun yang mereka tanya atau cari, solusinya ada pada smartphone, bukan lagi tanya pada orang lain." 

Data untuk semua

Survei Consumer Barometer 2015 ini dilakukan dengan metode wawancara tatap muka langsung dengan 1.200 responden pengguna smartphone di Indonesia. Survei dilakukan sepanjang Januari-Maret 2015 secara nasional dengan mempertimbangkan perwakilan populasi. Namun dalam survei tidak terungkap daerah mana saja di Indonesia yang memiliki penetrasi smartphone paling besar.

Survei tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi juga dilakukan di 56 negara lainnya dengan total 400 ribu konsumen, kerjasama Google dengan TNS. Consumer Barometer adalah online tool gratis komprehensif bagi para planner yang ingin memahami perilaku konsumen digital dan belanja.

“Indonesia adalah salah satu dari 21 negara di dunia di mana penggunaan smartphone lebih banyak dibandingkan penggunaan perangkat komputer,” papar Veronica. “Dan, 30% dari pemilik smartphone ini melakukan penelusuran dengan perangkatnya setidaknya satu kali dalam seminggu.”

Menurut Veronica, Consumer Barometer ini bisa diakses secara terbuka dan gratis di website www.consumerbarometer.com Dari situ kita bisa memilih ingin melihat hasil survei di negara mana saja, termasuk di Indonesia.

“Selama ini orang berpendapat data itu mahal. Bayar berjuta-juta rupiah. Consumer Barometer ini terbuka aksesnya oleh siapa pun. UMKM bisa manfaatkan ini untuk strategi marketing mereka,” kata Veronica.

Micro moments

Barometer konsumen ini dibuat berdasarkan gagasan soal adanya micro-moments yang dialami setiap orang yang mendorong penggunaan smartphone. “Adanya Consumer Barometer ini, pelaku bisnis bisa memanfaatkannya untuk memahami momen apa yang relevan dengan produknya, juga menyediakan konten atau jawaban yang sesuai dengan momen tersebut,” kata Veronica.

Momen pertama disebut adalah i-want-to-do moment. “Pada dasarnya kita selalu ingin belajar hal baru,” papar Veronica. Dari situ, orang melirik ke smartphone untuk mencari jawaban tersebut. “Misalnya saya ingin belajar pakai make up karena saya nggak biasa pakai make up, jadi saya berpaling ke smartphone.”

Momen yang kedua adalah i-want-to-buy moment. Menurut Veronica, satu hal mengejutkan yang didapat dari hasil Consumer Barometer ini adalah bahwa 67% online user di Indonesia berbelanja di smartphone mereka. “Ini mengejutkan karena angkanya sebesar itu.” Data di Amerika Serikat menunjukkan hanya 10% pengguna smartphone yang berbelanja langsung dari smartphone, sementara di Inggris angkanya hanya 7%. Penerapannya bermacam-macam – mulai dari membandingkan produk sebelum membeli sampai membelinya langsung dengan smartphone mereka. Data dari survei Google juga menunjukkan kalau 30% pemilik smartphone di Indonesia menonton video online untuk belajar sesuatu yang baru. 

Sedangkan momen terakhir adalah i-want-to-go moment. “Bagaimana pun, smartphone dibawa ke mana pun. Misalnya kita ada di suatu tempat, lalu butuh barang atau jasa dan tidak tahu harus cari ke mana, maka kita berpaling ke smartphone. Misalnya, saya lagi ingin nasi Padang di dekat sini, maka saya cari di smartphone.”

red

Bisa dimanfaatkan UMKM

Menurut Veronica, cara berpikir ini bisa dimanfaatkan UMKM untuk memastikan bisnisnya hadir ketika orang memiliki kebutuhan tersebut. Caranya dengan mengidentifikasi momen apa yang relevan untuk mereka, memastikan punya online presence yang baik, mengukur kehadiran mereka di internet dengan perangkat yang tersedia, sampai memastikan konteks dan optimalisasi kehadiran mereka di smartphone.

“Karena itu pelaku bisnis harus memastikan konten mereka available di smartphone. Banyak yang membuat website hanya untuk kebutuhan desktop, dan pindah ke website lain ketika pengalaman mobile-nya tidak enak.”

Google juga akan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk mengangkat UMKM di dunia maya. “Ada beberapa inisiatif bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengedukasi mereka supaya punya online presence yang baik,” jelas Veronica. Salah satu aplikasi Google yang bisa dimanfaatkan adalah Google My Business, yang bisa dimanfaatkan pelaku bisnis untuk mendaftarkan bisnis mereka berdasarkan alamat tertentu.

Simak wawancara dengan Veronica Utami di sini. 

  • google indonesia
  • perilaku konsumen
  • konsumen digital
  • belanja online
  • smartphone
  • consumer barometer 2015

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!