NUSANTARA

Siswa Miskin di Kudus Ditolak Masuk SD

"Malang benar nasib Alan Davin Prawira Utama. Anak penyapu jalan di Kudus, Jawa Tengah ditolak mendaftar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Hadipolo, Jekulo Kudus."

AUTHOR / Ahmad Rodli

Siswa Miskin di Kudus Ditolak Masuk SD
siswa miskin, kudus

KBR, Kudus – Malang benar nasib Alan Davin Prawira Utama. Anak penyapu jalan di Kudus, Jawa Tengah ditolak mendaftar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Hadipolo, Jekulo Kudus. 


Alasan penolakan karena yang bersangkutan tinggal di Kompleks perumahan Keluarga kurang mampu. Sudarti, ibu Alan, memprotes perlakuan sekolah tersebut dengan mendatangi kantor kelurahan setempat.


Sudarti mendaftarkan anaknya pada Senin (6/5), namun kepala sekolah memintanya untuk kembali seminggu lagi. Ternyata Alan ditolak masuk ke sekolah itu. Alasannya, Alan tidak bersekolah di TK Pertiwi, yang berada di lingkungan sekolah tersebut. 


Alasan ini dinilai mengada-ada sebab ada beberapa orang siswa yang tidak bersekolah di TK pertiwi namun diterima. Pihak sekolah sempat menyarankan untuk bersekolah di SDN 5 yang jaraknya lebih jauh dari komplek perumahan tersebut.


”Alasannya batasan wilayah, kalau rumahnya balai desa ke sana tidak boleh. Juga karena anak saya tidak bersekolah di TK sini, tapi di TK Roudlotul Mu'minin,” kata Sudarti. 


Sementara itu, Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus, Kasmudi datang ke SD Negeri 2 Hadipolo untuk ikut menyelesaikan masalah ini. Dia menegaskan tak boleh ada diskriminasi dalam penerimaan murid. 


“Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar tanpa terkecuali termasuk Alan. Hanya saja saat ini pendaftaran belum secara resmi dimulai, orangtua baru menitipkan anaknya belum mendaftar,” ucapnya. 


Kasmudi juga meminta maaf atas perlakuan sekolah yang mungkin dinilai kurang tepat.


Pendaftaran secara resmi dimulai 23-26 juni mendatang. Dalam pendaftaran nanti tidak boleh dilakukan seleksi membaca, menulis maupun menghitung. 


Seleksi hanya dilakukan berdasarkan umur, jarak rumah dari sekolah dan waktu mendaftar. Umur yang lebih tua mendapat prioritas, begitu juga yang rumahnya lebih dekat dengan sekolahan dan yang mendaftar lebih dulu.


Editor: Antonius Eko 

  • siswa miskin
  • kudus

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!