RAGAM

Satu Dekade Pencerah Nusantara: Aksi Bersama untuk Indonesia Sehat Setara

"“Pencerah Nusantara” dibentuk untuk merevitalisasi layanan kesehatan primer dengan pendekatan holistik atau menyeluruh."

Satu Dekade Pencerah Nusantara: Aksi Bersama untuk Indonesia Sehat Setara
Satu Dekade Pencerah Nusantara: Aksi Bersama untuk Indonesia Sehat Setara.

KBR, Jakarta - Sejak 2012, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), sebuah organisasi non-profit bidang kesehatan, telah menginisiasi sebuah program intervensi bernama “Pencerah Nusantara” untuk merevitalisasi layanan kesehatan primer dengan pendekatan holistik atau menyeluruh. Program ini beranggotakan kelompok anak muda pegiat kesehatan yang sudah terlatih.

Diah S. Saminarsih - Founder & CEO of CISDI mengatakan, dari 8 target MDGs, 60-70 persen berhubungan dengan kesehatan. Selain untuk mencapai target MDGs, Layanan Primer yang berdaya ini bisa membantu memperkuat referral system untuk menjalankan undang-undang JKN. Kedua hal inilah yang mendorong dibentuknya Pencerah Nusantara pada tanggal 28 Oktober 2012.

Nidya Eka Putri - Senior Program Officer of CISDI dan Alumni Pencerah Nusantara Angkatan 5, menceritakan pengalamannya yang paling berkesan ketika bergabung dalam Pencerah Nusantara. Si Sulawesi Barat, di wilayah kerja Puskesmas Bambalamotu terdapat suku terasing, namanya Suku Daah. Ketika melakukan kelas ibu hamil, di tengah-tengah acara terdengar suara tangisan bayi. Ternyata di salah satu gubuk dekat lokasi kegiatan ada seorang ibu yang sedang berusaha melahirkan bayinya sendiri.

Kisah-kisah menarik lainnya bisa anda ikuti di youtube Berita KBR. Simak juga paparan dari Hasna - Kepala Puskesmas Bambalamotu, Sulawesi Barat, yang wilayahnya menjadi area kerja tim Pencerah Nusantara.

Baca juga: Menkes: Indonesia Kekurangan Dokter Spesialis Jantung - kbr.id

  • adv
  • kesehatan
  • MDGs
  • JKN

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!