RAGAM

Rutgers Indonesia : Dialog Capaian Perubahan Program

"Rutgers Indonesia melaksanakan “Dialog Capaian Perubahan Program” pada 12-14 November 2023 di Bigland Hotel International & Convention Hall, Bogor."

Rutgers Indonesia : Dialog Capaian Perubahan Program
Dialog Capaian Perubahan Rutgers Indonesia

KBR, Jakarta – Rutgers Indonesia yang merupakan organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mempromosikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) dan pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) telah menggelar acara Dialog Capaian Perubahan Program pada 12-14 November 2023 di Bigland Hotel International & Convention Hall, Bogor.

Dalam kegiatan tersebut mengangkat tema “Sadar, Terlibat, dan Berbuat: Perjalanan orang muda bersama Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam mendorong pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, pencegahan Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual pada 13 Kabupaten di 6 Provinsi di Indonesia”.

Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merayakan dua tahun pencapaian dari program-program yang diimplementasikan Rutgers Indonesia yaitu Right Here Right Now (RHRN2), Power to You(th) (PtY), Generation Gender (Gen-G), dan Explore 4 Action (E4A).

Berbagai sesi diskusi digelar dengan mengangkat topik-topik terkait isu kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan anak dan kekerasan seksual, baik dari persepsi gender dan Islam, maupun di kalangan Universitas, diskusi tentang kekerasan berbasis gender online, dan peran sosial media.

Selain itu, akan dipamerkan poster pencapaian program dan pemutaran film tentang perkawinan anak, dan talkshow yang mengangkat topik aspirasi dan perkembangan remaja dan orang muda dalam sistem pendidikan dan komunitas.

Terkait isu perkawinan anak, berdasarkan data BPS, Bappenas, UNICEF dan PUSKAPA, 2020, 11,21% (1 dari 9 anak perempuan usia 20-24 tahun telah menikah sebelum usia 18 tahun). Dan tercatat tiga provinsi yaitu Sulawesi Barat (19.43%), Kalimantan Tengah (19,13%), dan Sulawesi Tenggara (18,96%) dengan persentase pernikahan di bawah 18 tahun paling tinggi.

Sedangkan, terkait isu kekerasan berbasis gender dan seksual, mengutip data CATAHU Komnas Perempuan 2022, tahun 2021 tercatat sebagai tahun dengan jumlah kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) tertinggi, yakni meningkat 50% dibanding tahun 2020 sebanyak 338.496 kasus.

Ada beberapa jenis KBG terhadap perempuan yang menjadi perhatian di tahun 2021, antara lain KBGS terhadap perempuan, KBGS terhadap perempuan dengan disabilitas, kekerasan dengan pelaku anggota TNI dan POLRI, serta kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.

Data ini juga memperlihatkan kenaikan 83% kasus KBGS dari tahun 2020 sebanyak 940 kasus menjadi sebanyak 1.721 kasus pada 2021. Penerima laporan KBGS terbanyak adalah di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan WCC (Women Crisis Center) yakni sebanyak 170 kasus.

Diikuti DP3A (Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak) dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) sebanyak 22 kasus, serta Pengadilan Negeri sebanyak 13 kasus.

Kategori KBGS pada pengaduan Komnas Perempuan dan data lembaga layanan didominasi kasus intimidasi secara online (cyber harassment), ancaman penyebaran foto/video pribadi (malicious distribution) dan pemerasan seksual online (sextortion).

Selama lima tahun terakhir data CATAHU mencatat bahwa bentuk kekerasan yang dialami oleh perempuan tidak jauh berbeda, yaitu 36% untuk kekerasan psikis dan 33% untuk kekerasan seksual, disusul kekerasan fisik sebanyak 18% dan kekerasan ekonomi sebesar 13%.

Dalam hal pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif, Rutgers Indonesia bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan dengan dukungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, melakukan sebuah penelitian Studi Global.

Penelitian ini dilakukan pada Remaja Awal (Global Early Adolescent Study atau GEAS) di 3 (tiga) kota yaitu Lampung, Semarang dan Denpasar sejak tahun 2019.

Hal ini bertujuan untuk memahami bagaimana sosialisasi gender dan proses sosial lain mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan remaja awal, untuk melihat dampak dari pendidikan kesehatan seksualitas komprehensif SETARA.

Selain itu, untuk memberikan informasi kepada pembuat kebijakan, orang tua, guru, pembuat program, peneliti dan remaja sendiri dalam perencanaan dan pelaksanaan program dan layanan remaja.

Acara dibuka oleh Nunuk Suryani sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

“Satuan pendidikan harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar, intoleransi kekerasan seksual dan perundungan merupakan hal yang perlu dicegah dan dihapuskan.” ungkapnya.

Nunuk juga menyampaikan apresiasi kepada Rutgers Indonesia atas berbagai upaya yang telah dilakukan dalam memastikan anak-anak mendapatkan hak-haknya terutama di bidang pendidikan.

Selain itu, Restu Pratiwi sebagai Country Representative Rutgers Indonesia menyampaian tentang dukungan Pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah sangat penting.

"Dari seluruh capaian yang telah diraih dalam dua tahun terakhir ini, kami melihat bahwa dukungan Pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah terhadap program yang dijalankan merupakan salah satu unsur penting dari keberhasilan.” ungkapnya.

Sejak 2021, Rutgers Indonesia mengimplementasikan tiga program utama yaitu Right Here Right Now (RHRN2), Power to Youth (PtY), dan Generation Gender (Gen-G) dengan periode kerja mulai dari tahun 2021 dan akan berakhir pada tahun 2025.

Fokus kerja dari ketiga program tersebut antara lain melakukan upaya untuk memperkuat orang muda, pemangku kepentingan termasuk pembuat kebijakan, dan OMS, untuk mencapai cita-cita mendorong pemenuhan HKSR dan kehidupan yang lebih adil gender dan inklusif.

Adapun strategi utama ketiga program ini antara lain meliputi Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) di Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Luar Biasa (SLB), memperkuat/pemberdayaan orang muda, literasi hak-hak terutama hak perempuan, anak.

Selain itu, literasi hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi, kampanye untuk meningkatkan dukungan pada perubahan, serta mendorong advokasi kebijakan mulai dari unit desa hingga tingkat nasional.

Baca juga: Speak the Unspoken: Gen Z Sebagai Penentu Perubahan Masa Depan - kbr.id

  • Kesehatan Reproduksi
  • Perkawinan Anak
  • Kekerasan Berbasis Gender
  • Kekerasan Seksual
  • Kesehatan
  • Kekerasan
  • advertorial

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!