BERITA

Ribuan Unggas di Banyuwangi Mati, Diduga Flu Burung

"Selama dua pekan belakangan, kematian unggas di Banyuwangi meningkat."

Hermawan Arifianto

Ribuan Unggas di Banyuwangi Mati, Diduga Flu Burung
Peternak Unggas di Desa Weringin Agung, Banyuwangi semprot kandang pasca matinya ribuan unggas yang diduga terinfeksi flu burung. (Foto: KBR/ Hermawan)

KBR, Banyuwangi - Ribuan unggas  di Desa Weringin Agung, Banyuwangi, Jawa Timur, mati mendadak. Salah satu peternak unggas, Imam Syahmani menduga, kematian ternaknya lantaran terjangkit flu burung. “Ada wabah virus ini, gejalanya tampak pada 1 bulan yang lalu, cuma parahnya sepertinya minggu ini," tutur Imam di Banyuwangi, Sabtu (12/03/2016).

Peternak unggas Desa Weringin Agung tersebut mengungkapkan, selama dua pekan belakangan, kematian unggas miliknya meningkat. Hingga awal Maret, ia mencatat, jumlahnya mencapai ribuan ekor. "Gejalanya nafsu makan itu tidak ada, itik yang terkesan aktif itu menjadi diam tidak mau makan tidak mau aktivitas, terus mati. Untuk satu minggu ini hampir setiap hari.” jelas Imam.


Imam pun melanjutkan, ciri-ciri lain di antaranya, keluar lendir dari mulut unggas, kehilangan nafsu makan, dan dalam hitungan jam, unggas–unggas tersebut mati.


Sementara peternak unggas lain di Desa Sumber Agung, Sumadi mengaku mengalami hal serupa. Ratusan unggas miliknya mati sepanjang dua pekan ini. Ciri-cirinya sama, kata dia, mengeluarkan lendir dari mulut.


Sumadi menambahkan, khawatir unggas yang mati itu karena terjangkit flu burung, maka dia berinisiatif membakar bangkai unggas tersebut. Selain itu, dia juga membersihkan dan menyemprot kandang dengan obat.


Sumadi mengaku, kematian mendadak ratusan unggas tersebut membuatnya merugi puluhan juta Rupiah. Apalagi, kini mendekati masa panen unggas.

Editor: Nurika Manan

  • Unggas Banyuwangi
  • flu burung

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!