BERITA

Perludem Kritik Panwas Kuala Lumpur

"KBR - Perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem) mengkritik kinerja panitia pengawas (panwas) pemilu di Kuala Lumpur, Malaysia."

Ninik Yuniarti

Perludem Kritik Panwas Kuala Lumpur
ppln, kuala lumpur, panwas


KBR - Perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem) mengkritik kinerja panitia pengawas (panwas) pemilu di Kuala Lumpur, Malaysia. (Baca: KPU dan Bawaslu Tolak Pemilu Susulan di Luar Negeri)

Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini mengatakan, panitia pengawas seharusnya aktif menelusuri dugaan penggelembungan suara melalui drop box dan pos. Menurutnya, panwas bisa memeriksa kembali sejumlah alamat pemilih untuk memastikan tidak terjadi kecurangan. Hal ini perlu dilakukan karena dugaan terjadi kecurangan di pilpres di Kuala Lumpur.

"Yang bisa mengidentifikasi dengan segala struktur yang ada kan, pengawas pemilu luar negeri, kalau kita di dalam negeri kan, kita tidak punya instrumen. Jadi harus ada penyelidikan, caranya salah satunya dengan pakai sampling aja, kan alamat ada, bukan sesuatu yang tidak bisa ditelusuri," kata Titi Anggraini di Media Center KPU, (19/7). .

Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini menambahkan, lembaganya mencatat mekanisme drop box dan pos di mayoritas negara, banyak yang tidak efektif. Ini lantaran partisipasi pemilih yang menggunakan mekanisme itu cenderung rendah.

Perludem juga mengkritik panitia pemilihan luar negeri banyak yang tidak maksimal dalam bekerja. Perludem mencatat hanya panitia pemilihan di Taipei yang memiliki kualitas kinerja yang baik.

Sebelumnya, hasil penghitungan suara pemilu melalui drop box dan pos menunjukan pasangan Prabowo-Hatta unggul dengan 39 ribu lebih suara dan Jokowi-JK hanya kurang dari 4 ribu suara. Padahal Jokowi-JK memenangi di setiap TPS di sana.

Editor: Nanda Hidayat

  • ppln
  • kuala lumpur
  • panwas

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!