NUSANTARA

Pemprov NTT Berencana Setop Pengiriman Ternak Sapi Hidup

"Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengirimkan daging sapi ke Pulau Jawa. Selama ini, provinsi ini hanya mengirimkan sapi hidup ke luar provinsi."

Pemprov NTT Berencana Setop Pengiriman Ternak Sapi Hidup
Pemprov NTT, Ternak Sapi Hidup

KBR, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengirimkan daging sapi ke Pulau Jawa. Selama ini, provinsi ini hanya mengirimkan sapi hidup ke luar provinsi.

Pemerintah Provinsi NTT menargetkan ke beberapa tahun depan NTT akan menghentikan pengiriman ternak sapi hidup ke luar NTT. Upaya ini untuk meningkatkan nilai tambah daging sapi.  Sebab, pengiriman daging akan memberikan harga yang lebih tinggi dibanding pengiriman ternak sapi.

Menurut Gubernur NTT Frans Lebu Raya, rencana penghentian pengiriman ternak hidup ini bisa dijalankan setelah PT Sagarau Bahari Kupang mulai mengirim daging sapi ke Provinsi DKI Jakarta.

"Sudah ada rumah potong hewan yang bersih, yang sehat dan satu lagi halal.  Mimpi kita dari suatu saat kita tidak lagi mengirim sapi hidup tapi kita mengirim daging. Pantauan mulai saat ini terasa, walaupun belum banyak, baru dikirim delapan ton dan ini akan dikirim sekian ton," kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Kamis (4/9).

Frans menambahkan, NTT baru mampu memasok 20 sampai 30 ekor ternak sapi ke PT Sagarau Bahari untuk diolah. Sedangkan perusahaan itu mampu mengolah 30 hingga 50 ekor sapi hidup setiap hari.  

Ia menjelaskan, populasi  ternak sapi di NTT lebih dari 800 ribu ekor. Frans mengatakan Dinas Peternakan melalui program pembibitan dan penggemukan, telah menargetkan populasi sapi 1,5 juta ekor pada tahun 2014 ini. Selain itu pemerintah NTT tetap melarang pengiriman sapi betina hidup ke luar NTT.

Editor: Anto Sidharta

  • Pemprov NTT
  • Ternak Sapi Hidup

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!