BERITA

PDIP Laporkan Catatan Buruk Kabinet Kerja

"Eva Kusuma Sundari mengatakan, Presiden Jokowi sudah mengantongi banyak acuan untuk mengevaluasi kinerja menterinya saat ini."

AUTHOR / Damar Fery Ardiyan

PDIP Laporkan Catatan Buruk Kabinet Kerja
Kabinet Kerja Jokowi. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Sejumlah Ketua DPD PDI Perjuangan melaporkan berbagai catatan buruk kinerja kementerian Kabinet Kerja kepada Presiden Jokowi. Di antaranya menteri bidang ekonomi dan hukum. Politisi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari mengatakan, Presiden Jokowi sudah mengantongi banyak acuan untuk mengevaluasi kinerja menterinya saat ini. Namun PDI Perjuangan, menurut dia, menyerahkan seluruh putusan mengenai perombakan ini kepada Jokowi.

"Presiden sudah cukup mempunyai, banyak sumber, data, informasi dari berbagai pihak, termasuk dari orang terdekat. Saya pikir pada saat ini tengah mengkalkulasi. Tetapi menurut kami, kita tetap menghormati Presiden mau kapan dan siapa yang diganti," ujar Eva dalam perbincangan KBR Pagi, Kamis (7/5/2015).


Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan perlunya perombakan kabinet. Perombakan ini tidak hanya sekadar menteri, tetapi juga menyasar pejabat yang diangkat Presiden Jokowi. Saat ini, kinerja Kabinet Kerja tengah disorot.

Penelitian Poltracking Indonesia April lalu menunjukan, menteri bidang ekonomi menempati urutan teratas yang bekinerja buruk. Peringkat kedua diduduki menteri bidang hukum. Hingga hari ini, sasaran tembak untuk dicoret dari jajaran menteri adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijanto, Rini Soemarno, Menteri BUMN, Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro, Menteri Pedagangan Rachmat Gobel, Menteri Hukum dan HAM yang juga politisi PDIP, Yassona Laoly. Juga Andi Widjajanto.

 

Editor: Damar Fery

  • Reshuffle
  • Menteri
  • Jokowi
  • PDIP

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!