NUSANTARA

NTB Tunggak Pembayaran Raskin Rp 600 Juta

"Sejumlah kabupaten kota di NTB masih menunggak pembayaran beras miskin (raskin) senilai Rp 600 juta. Jumlah itu sebenarnya telah berkurang dalam minggu ini dari total sisa tunggakan sebesar Rp 1,2 miliar pada pekan sebelumnya."

Zainudin Syafari

NTB Tunggak Pembayaran Raskin Rp 600 Juta
raskin, NTB

KBR, Mataram -Sejumlah kabupaten kota di NTB masih menunggak pembayaran beras miskin (raskin) senilai Rp 600 juta. Jumlah itu sebenarnya telah berkurang dalam minggu ini dari total sisa tunggakan sebesar Rp 1,2 miliar pada pekan sebelumnya. 


Tunggakan raskin tersebut, merupakan tunggakan pembayaran raskin tahun 2014 ini yang masih belum bisa tertagih seluruhnya. Kabupaten kota yang masih memiliki jumlah tunggakan terbesar adalah Kabupaten Lombok Timur. 


Kepala Bulog Divre NTB, M. Sugit Tedjo Mulyono Jumat (28/11) di kantor gubernur NTB. Dia mengatakan, semua Kabupaten Kota di NTB kecuali Kabupaten Bima dan Dompu menunggak pembayaran  raskin. 


“ Ya Lombok Tengah masih, Mataram masih,  Lombok Timur masih tapi udah sekitar 600 lah mudah-mudahan hari ini bisa kurang. 600 juta itu sisa dari 1,2 miliar.” Kata Sugit, Jumat (28/11). 


Dia mengatakan, pada prinsipnya, Bulog Divre NTB siap menyalurkan raskin tambahan karena masih memiliki cadangan beras sebanyak 100 ribu ton lebih. Cadangan beras sebanyak itu diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan hingga 20 bulan ke depan.


Pemerintah pusat melalui Perum Bulog  menyalurkan sebanyak 84 juta kg raskin bagi 471.566 Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) pada tahun 2014 di seluruh NTB. 


Untuk penyaluran raskin tahun 2014, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan, menetapkan basis data terpadu hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011, sebagai dasar penyaluran raskin tahun 2014.


Editor: Antonius Eko 

  • raskin
  • NTB

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!