INDONESIA

Menelusuri Budaya India di Daratan Eropa

Semenjak pelayaran Chrisopher Columbus di abad ke 15, budaya India yang penuh warna selalu menjadi menginspirasi Eropa.

AUTHOR / Shadi Khan Saif

Menelusuri Budaya India di Daratan Eropa
Leverkusen, Jerman, festival India, Shadi Khan Saif

Ditandai dengan warna-warni indah dan datangnya musim semi. Upacara keagamaan, festival Holi adalah produk india yang mulai dikenal banyak negara.

Di Jerman sendiri. Kaum muda-mudi mulai merangkul tradisi ini.

Namun berbeda dengan perayaan di India, perayaan di Eropa diselenggarakan pada lapangan besar terbuka dan Anda diharuskan membayar tiket masuk.

Pria Jerman berusia 26 tahun, Maxim Derenko mengunjungi India tahun lalu dan terinspirasi untuk menciptakan kembali festival tersebut di tanah airnya.

“Kami sangat kagum atas ide acara tersebut, yang berarti kesetaraan, di Jerman sendiri masih terjadi ketidaksetaraan jadi kami ingin menyampaikan pesan kesetaraan kepada penduduk Jerman. Kebahagiaan ini, perasaan ini disampaikan melalui bubuk berwarna yang merupakan simbol kesetaraan, kami menginginkan hal yang sama.”

Maxim dan temannya mengadakan acara tersebut dan berencana untuk menyelenggarakannya di segala penjuru eropa.

Menggunakan musik dan cita rasa barat, perayaan Holi menjadi berbeda dengan sentuhan eropa.

Sejauh ini acara tersebut dapat dikatakan sukses, dengan 15 ribu peserta yang masing-masing diharuskan membayar 170 ribu rupiah untuk tiket masuk.

Maxim mengatakan orang-orang menyukai konsep acara tersebut.

“Kebudayaan india sangat terkenal di Eropa khususnya di Jerman, orang menyukai makanan India, budaya India, kami juga sedang melakukan sesuatu tentang film bollywood, kami telah berbicara dengan kedutaan besar dan dinas pariwisata India, kami mendukung mereka sepenuhnya dan ini membawa kebaikan bagi semua pihak.”

Di gerai makanan, kari india diperjualbelikan di bawah spanduk yang bertuliskan “holy food” atau makanan suci.

Makanan lezat India adalah salah satu daya tarik acara tersebut, dan para peserta rela mengantri untuk dapat menyicipi makanan India.

Di luar festival, kaum imigran India di Jerman mendirikan basis penggemar India.

Manu Puri berasal dari Punjab, India beberapa tahun lalu dan membuka restoran di kota Bonn.

Bisnisnya berhasil dan sekarang dia berencana untuk mengembangkan bisnisnya di tempat lain.

“Bisnis saya berjalan dengan baik, ada kecintaan terhadap India di sini. Mereka mencintai makanan dan budaya India, kami memiliki pelanggan yang pergi dan tinggal di India selama enam bulan setiap tahunnya.”

Industri film India memainkan peranan penting dalam memenuhi kegilaan akan India.

Setiap tahun bintang film India mengunjungi Festival Film Jerman, Berlinale.

Shah Rukh Khan, tahun lalu mempromosikan filmnya ‘Don’, merupakan nama yang sudah tidak asing lagi di Jerman.

Tapi penghargaan akan hal-hal berbau India baru terjadi di Jerman.

Pada tahun 2000, politisi terkemuka Jerman Jurgen Ruttgers membuat penyataan controversial yang mengatakan “Kinder statt Inder” yang berarti “Children instead of Indians” atau Anak bukan orang India.

Ruuger, seperti nasionalis Jerman lainnya, mengkritisi jumlah imigran India di Jerman.

Nisa Punnamparambil-Wolf adalah seorang penulis asal India Selatan.

Dia menulis buku untuk melawan Kinde-statt Inder di Jerman dan dalam bukunya dia mengeksplorasi beragam pemikiran tentang India.

“Kami mempunyai cerita tentang seorang India yang merasa inilah rumah kami dan kami adalah orang jerman meskipun secara fisik kami India. Dan dalam buku ini kami juga mempunyai cerita tentang Dipstesh atau yang mengatakan bahwa “sebuah masyarakat multicultural tidak mungkin terjadi di Jerman.” Jadi ada beberapa cara yang dapat membuat seseorang terombang-ambing di antara dua budaya, tapi tidak semua orang merasa seperti itu.”

Mengingat festival Holi baru saja diselenggarakan di Jerman, Nisa mengatakan tidak peduli tentang apakah budaya India yang disampaikan di Jerman itu bener-benar asli atau sebuah strategi marketing.

“Saat ini, ada beragam hal yang berbau India di Jerman dan tentu saja festival Holi adalah yang paling terkenal sekarang namun itu tidak ada kaitannya dengan Holi tapi akan selalu ada budaya dan masyarakat yang dinamis dan kita bisa suka atau tidak suka. Itu akan datang dan pergi. Dan siapa yang tahu, maksud saya ketika saya masih kecil Halloween tidak pernah dirayakan di Jerman dan sekarang sudah menjadi bagian dari budaya Jerman. Jadi mungkin ini adalah sebuah jembatan, jembatan yang biasa menghubungkan budaya dan bangsa Jerman, muda mudi Jerman tidak akan pernah tahu soal India jika mereka tidak ambil alih dalam festival Holi.”

Yoga dan tari klasik India juga mulai populer.

Di kota Cologne, perempuan Jerman beruia 55 tahun menggunakan nama Madhavi Mandira ketika dia mengajar kelas tari klasik India.

Madhavi mengatakan sebagian besar muridnya adalah orang jerman.

“Seni ini masih belum banyak ditemui di Jerman seperti tarian lainnya macam Salsa dan Flamenco yang jauh lebih mudah tapi tari klasik India mengharuskan anda untuk pergi ke luar dan mencari orang-orang yang minat yang sama dan bukan kelompok besar tapi seseorang yang akan sungguh-sungguh mempelajarinya.”

Kembali ke festival Holi, Muda mudi Jerman melemparkan bubuk berwarna kepada satu sama lain. Dan para gadis menaruh bindi yang berwarna cerah – yang merupakan simbol pernikahan di India – pada kening mereka

Walaupun para peserta tidak mengetahui makna sebenarnya dari Holi atau bindi…mereka terlihat bahagia menikmati acara tersebut.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!