NASIONAL

Harga Beras Tinggi, Koperasi Pedagang: Panen Masih Lama

""Mulai panen itu belum langsung dijual ke pasar, tetapi kata Menteri Pertanian kita melimpah ruah ini kan konyol Menteri Pertanian.""

AUTHOR / Resky Novianto

Panen padi
Panen padi di Desa Balane, Sigi, Sulteng, Kamis (26/01/23).(Antara/Basri Marzuki)

KBR, Jakarta- Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkopas) menyebut pola kenaikan harga beras disebabkan terbatasnya pasokan di pasar. 
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inkopas, Ngadiran mengatakan, para pedagang terpaksa menjual beras dengan harga tinggi karena dipengaruhi panen raya yang baru akan terjadi akhir bulan ini.

"Prediksinya kan di akhir bulan ini baru mau panen, artinya di Februari atau Maret itu prediksinya baru mulai panen. Mulai panen itu belum langsung dijual ke pasar, tetapi kata Menteri Pertanian kita melimpah ruah ini kan konyol Menteri Pertanian. Itu angka di atas kertas ngomongnya katanya kita surplus. Kalau surplus ngga bakal dong harganya beras sampai segini mahal," ujar Ngadiran saat dihubungi KBR, Selasa (31/1/2023).

Sekjen Inkopas, Ngadiran mengatakan, dampak impor beras yang membanjiri pasar diakui cukup membantu menekan harga agar tidak membumbung tinggi. Akan tetapi, diakui jumlahnya masih cukup terbatas.

Ngadiran berharap agar pemerintah dalam hal ini Bulog bisa memberikan lebih banyak pasokan beras di pasar. Tujuannya, harga beras bisa dikendalikan dan tidak makin melonjak.


Baca juga:

Data Tidak Akurat

Anggota Komisi Pertanian DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Edward Tannur menyoroti koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang tidak berjalan. Imbasnya, kata dia, stok beras nasional menipis sehingga menyebabkan harga kian melambung meskipun sudah dilakukan upaya impor.

"Ini hubungan erat antara kementerian-kementerian yang memproduksi, produksi ngga ada biar kita rencanakan mau sampai ke bulan juga percuma. Jadi produksi dan anggaran jadi memang ini dilematis, maka itu diperlukan koordinasi yang mantap. Kalau tidak ada koordinasi masing-masing jalan sendiri atau koordinasinya belum cukup, pasti mengalami hambatan-hambatan dalam merealisasikan pangan khususnya beras," ujar Edward dalam RDP dengan Bapanas dan Bulog, Selasa (31/1/2023).

Edward mengatakan, miskoordinasi antar kementerian lembaga terlihat dari disharmoni masalah data soal beras nasional di tahun lalu. Menurutnya, perbedaan data menyebabkan negara mengalami defisit stok beras dan harga melonjak tajam di pasaran.

"Enam bulan sudah defisit beras maka itu dilakukan impor, tapi data ini kan simpang siur. Si A bilang surplus, si B bilang kurang, ini mau dengar yang mana sebenarnya? Data yang benar ini mungkin hanya Tuhan Allah aja yang punya," tuturnya.

Menurut Edward, ketidakuratan data yang dimiliki pemerintah diminta tidak terulang di tahun ini. Ia juga berharap panen raya bulan depan bisa menambah stok beras nasional sehingga harga bisa segera ditekan.

"Harga patokannya beras Bapanas Rp8.900 tidak mungkin karena ini merangkak naik terus sudah Rp10.000 lebih. Mudah-mudahan nanti panen pada musim tanam pertama bisa menekan karena stok nasionalnya kan banyak," pungkasnya.



Editor: Rony Sitanggang

  • Harga Beras
  • beras
  • Bulog
  • operasi pasar
  • Inkopas

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!