INDONESIA

Harapan Pengungsi Afghanistan pada Presiden Baru

"Pengungsi Afghan di Pakistan tidak bisa ikut menentukan masa depan negeri mereka."

AUTHOR / Shadi Khan Saif

Harapan Pengungsi Afghanistan pada Presiden Baru
Afghanistan, pengungsi, Pemilu, Pakistan

Pengungsi Afghanistan merupakan pengungsi terbanyak dan mereka tersebar di seluruh dunia. 


Menurut dewan pengungsi PBB, UNHCR, jumlah pengungsi Afghanistan mencapai 3 juta orang dan kebanyakan dari mereka kini hidup di negara tetangga Pakistan. 


Tapi mereka tidak bisa ikut di Pemilu yang baru-baru ini berlangsung di kampung halaman mereka. 


Di antaranya adalah mereka yang tinggal di Pasar Al-Asif. 


Pasar ini terletak di Karachi, Pakistan, tapi nampak seperti Afghanistan versi mini…


Makanan khas seperti Kebab, Kabul Pilawo, manto sangat mudah didapat…bahkan musik Pashto dan Dari terbaru berkumandang di jalan-jalan…


Jan Agha menghabiskan seumur hidupnya sebagai pengungsi di tempat ini. Dia tidak mendapatkan hak suara dalam pemilu baru-baru ini.


“Kami merasa diabaikan dan sangat sedih karena tidak diberikan hak suara pada pemilu Presiden Afghan kemarin….”


Jan Agha, seperti kebanyakan pengungsi Afghan lainnya masih merasa sebagai warga negara dan ingin turut andil dalam proses perubahan tanah airnya…


Tapi pejabat terkait mengatakan, kendala logistic menyebabkan 3 juta pengungsi Afghan tidak dapat memilih. 


“Saat merencanakan pemilu, sempat terlintas di benak kami untuk mengikutsertakan para pengungsi, tapi jujur saja tidak mungkin untuk mengikutsertakan mereka karena kendala teknis dan logistik,” kata Shah Ahmad Saed adalah Dewan Umum Afghanistan di Karachi.


Para pedagang dan buruh di pasar Al-Asif tinggal di kamp pengungsian ini, yang terletak beberapa mil dari pasar.


Terletak di luar Kota Karachi, daerah gersang ini dijadikan rumah bagi para pengungsi Afghanistan pada tahun 80’an. Dia antara mereka adalah Ghulam Rabbani. 


“Karena perang, kami terpaksa lari demi keselamatan diri dan kami jadi pengungsi di sini. Awalnya kami adalah petani miskin dan lahan kami sangat kecil tapi kini keluarga kami semakin besar dan tanah kami tidak lagi seperti dulu. Karena itulah kami sekarang miskin dan tidak bisa pulang ke tanah air.”


Sepupunya Gul Deen belum lama ini kembali ke Afghanistan dan membawa berita tentang pemilu.


“Kami berharap pemerintahan yang baru di Kabul adalah pemerintahan yang adil dan jujur. Pemerintah yang mengerti nilai dan pentingnya persaudaraan dengan tetangga.”


Sebagai pengungsi lain, Gul Deecan tidak mampu untuk membeli sebuah telepon seluler atau kendaraan.


Dia bahkan tidak bisa mengirim anak-anaknya ke sekolah pemerintah.


Tapi dia tidak berniat kembali ke tanah air karena tidak ada pekerjaan di sana.


Hal serupa dikatakan oleh Rabbani, ayah dari tujuh anak. Dia  akan tetap tinggal di Pakistan.


“Presiden baru harus memastikan setiap provinsi di Afghanistan menjadi maju dan berkembang sehingga rakyat miskin memiliki pekerjaan dan dapat hidup layak karena sulit rasanya untuk bisa bertahan hidup di sana.”


Hingga hal itu terwujud, Kabul versi mini ini akan menjadi pusat perdagangan yang terus berkembang.


  • Afghanistan
  • pengungsi
  • Pemilu
  • Pakistan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!