BERITA

Blok Masela Onshore, SKK Migas: Ini Bukan soal Menang atau Kalah

"Elan Biantoro memperkirakan kajian ulang POD kemungkinan butuh waktu tambahan antara satu sampai dua tahun dari target putusan akhir semula yaitu pada 2018 mendatang."

AUTHOR / Agus Lukman

Blok Masela Onshore, SKK Migas: Ini Bukan soal Menang atau Kalah
ulau Masela di kawasan selatan Provinsi Maluku. (Foto: Wikimedia)

KBR, Jakarta- Keputusan Presiden Joko Widodo bahwa proyek pengolahan gas dari Lapangan Gas Abadi, Blok Masela, Maluku dibangun di darat, membuat banyak nettizen mengomentarinya sebagai skor akhir silang pendapat antara Menteri ESDM Sudirman Said dan SKK Migas di satu sisi, dengan Menko Maritim Rizal Ramli di pihak lain.

"Nggak, ini bukan soal menang kalah. Saya tidak bisa berkomentar lebih jauh, karena kedua-duanya adalah pejabat pemerintah yang sangat kami hormati. Tapi ini dinamika demokrasi di negara kita. Perbedaan pendapat itu biasa. Itulah dinamika. Di tempat kita itu setiap orang bisa bebas berpendapat," kata Juru bicara SKK Migas Elan Biantoro kepada KBR, Rabu (23/3/2016). 

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) merekomendasikan megaproyek pengelolaan gas di lapangan gas abadi di Masela, Maluku dilakukan dengan membangun kilang di lepas pantai (offshore). Rekomendasi disampaikan kepada Menteri ESDM berdasarkan rencana pengembangan (Plan of Development/POD) yang diajukan dua investor Blok Masela, yaitu INPEX dan Shell. 

Kementerian ESDM pun mengusulkan skema kilang offshore itu ke Presiden karena dianggap lebih efisien. Namun Menko Maritim Rizal Ramli yang mengkoordinasi Kementerian ESDM menolak. Rizal Ramli menginginkan agar kilang pengelolaan gas Blok Masela dibangun di darat supaya bisa berdampak luas bagi kesejahteraan dan pembangunan di wilayah Maluku. Perbedaan yang tajam ini kemudian menimbulkan kegaduhan dan menjadi sorotan publik.

"(Perbedaan pendapat) Ini sebetulnya muncul efek transparansi. Tidak terskenariokan di belakang layar, begini begitu. Seolah-olah sudah digiring ke opsi tertentu. Saya sih melihat ini sangat positif bagi negara kita," kata Elan Biantoro. 

"Akhirnya, ini jadi transparan. Setiap orang jadi tahu soal Blok Masela. Terbuka jadinya. Coba, Anda diam-diam saja. Lalu keluar keputusan begini, yang terjadi adalah kita akan terkaget-kaget. Kalau seperti sekarang ini, semua mengamati. Mulai dari pengamat, LSM, pemerintah daerah, rakyat di Maluku, semua menyaksikan peristiwa ini. Mereka berdua (Sudirman Said dan Rizal Ramli) itu negarawan, cuma dari segi pendapat bisa berbeda," lanjut Elan Biantoro.

Terkait kemungkinan proyek pengelolaan Blok Masela molor karena investor harus mengkaji ulang rencana pengembangan, Elan Biantoro memperkirakan kajian ulang POD kemungkinan butuh waktu tambahan antara satu sampai dua tahun dari target putusan akhir semula yaitu pada 2018 mendatang.

"Mungkin (molor) menjadi sekitar 2020, tapi saya tidak bisa menyatakan dengan pasti. Karena itu bergantung dengan apa yang disiapkan oleh Inpex dan Shell. Soal target beroperasi pada 2024, saya tidak bisa menyatakan itu bisa dikejar atau tidak. Tapi secepat mungkin kita akan kejar target itu," kata Elan.  

Editor: Malika

  • Blok Masela
  • SKK Migas
  • elan bintoro
  • ESDM

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!