BERITA

Banjir Bandang Subang, Enam Tewas Ratusan Mengungsi

Saat ini potensi hujan ekstrem masih tinggi sehingga sewaktu-waktu bisa muncul ancaman banjir dan longsor.

AUTHOR / Agus Lukman

Banjir Bandang Subang, Enam Tewas Ratusan Mengungsi
Ilustrasi banjir bandang di Subang Jawa Barat pada awal 2014 lalu. (Foto: jabarprov.go.id)

KBR, Jakarta - Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Cilasak Kabupaten Subang Jawa Barat, Minggu (22/5/2016) menyebabkan longsor di sejumlah titik hingga menyebabkan banjir bandang.


Banjir menerjang Kampung Sukamukti, Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang pada Minggu malam. Bencana itu menyebabkan enam orang tewas, sejumlah orang luka dan lebih dari 100 keluarga mengungsi.


Informasi yang diterima KBR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB menyebutkan ada lebih dari 388 jiwa terdampak banjir.


Karena kabupaten ini belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana (BPBD), penanganan bencana kini ditangani Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Kabupaten Subang yang memiliki keterbatasan tidak adanya fungsi koordinasi, komando dan pelaksana.


Penanganan darurat banjir bandang di Subang telah ditetapkan selama tujuh hari hingga 29 Mei 2016. Upaya evakuasi para korban terdampak banjir serta korban hilang kini dilakukan BPBD Provinsi Jawa Barat, dibantu TNI, Polri, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana) PMI dan relawan.


Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut banjir di Cilasak Subang merusak lebih dari 30 rumah warga. Beberapa diantaranya bahkan rata dengan tanah. Sementara puluhan hektar sawah juga terendam banjir.


Saat ini BPBD Provinsi Jawa Barat telah memberikan bantuan sandang dan pangan bagi para korban berupa 120-an paket tambahan gizi dan lauk-pauk, makanan siap siap saji, air minum hingga selimut.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB memperingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Saat ini potensi hujan ekstrem masih tinggi sehingga sewaktu-waktu bisa muncul ancaman banjir dan longsor.


Apalagi tahun diperkirakan dampak cuaca ekstrem La Nina menguat sehingga terjadi kemarau basah, dimana selama musim kemarau masih sering turun hujan. 

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!