BERITA

Anak Krakatau Disebut Masuk Fase Mematikan, Ini Bantahan Pemerintah

"Jadi kita nyatakan, dengan lontaran maksimal tiga kilometer, ya amannya lima kilometer itu tadi. Itulah mengapa siaganya mulai tadi malam"

AUTHOR / Dian Kurniati

Anak Krakatau Disebut Masuk Fase Mematikan, Ini Bantahan Pemerintah
Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. (Foto: Antara/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)

KBR, Jakarta - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, membantah pendapat ahli vulkanologi asal California Amerika Serikat, Jess Phoenix, yang menyebut Gunung Anak Krakatau memasuki fase baru yang mematikan.

Jess Phoenix menganalisis berbagai data dari Gunung Anak Krakatau sejak gunung tersebut memulai aktivitas vulkaniknya, Juli 2018 hingga pasca-tsunami di Selat Sunda 23 Desember 2018.


Menurut Sekretaris Badan Geologi, Antonius Ratdomopurbo, letusan Gunung Anak Krakatau tercatat sangat sering, yakni sekitar 14 kali per menit, atau rata-rata terjadi setiap 5 detik sekali.


"Sekarang ada tambahan lagi eskalasi, bentuk-bentuk letusan yang berkembang. Jadi kita nyatakan, dengan lontaran maksimal tiga kilometer, ya amannya lima kilometer itu tadi. Itulah mengapa siaganya mulai tadi malam. Anak Krakatau tidak benar masuk dalam frase yang judulnya mematikan. Kalau orang naik ke puncak Krakatau ya baru mematikan. Tinggal konteksnya apa," kata Antonius di kantor Kementerian ESDM, Kamis (27/12/2018).


Antonius menambahkan, meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, membuat pemerintah menaikkan status Gunung Anak Krakatau, dari level dua atau waspada menjadi level tiga atau siaga.


Namun, Badan Geologi membantah aktivitas gunung sebagai salah satu pendorong tsunami di Selat Sunda, pekan lalu.

Baca: Disebut Sebabkan Tsunami, Ini Fakta Sebaran Material Anak Krakatau

Sekretaris Badan Geologi, Antonius Ratdomopurbo juga memastikan pemerintah tidak akan kembali menaikkan status Anak Krakatau menjadi awas, karena di sekitar gunung tersebut tak ada permukiman warga.

Saat ini, lontaran abu vulkanik yang keluar dari Gunung Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 2,5 ribu sampai 3 ribu meter, meningkat dari sebelumnya maksimal 1,5 ribu meter.


Sementara dari sisi luasan areanya, lontaran lava dan abu vulkanik tercatat seluas 3 kilometer, sehingga zona bahaya Anak Krakatau juga diperluas dari 2 kilometer menjadi 5 kilometer.


Antonius menambahkan, potensi bahaya dari Anak Krakatau adalah lontaran material pijar, aliran lava, serta awan panas yang mengarah ke selatan. Namun, aktivitas vulkanik Anak Krakatau merupakan hal yang wajar, meski tetap harus diwaspadai potensi longsor susulan dari bagian lain tubuh gunung tersebut.

Baca juga:

    <li><b><span id="pastemarkerend"><a href="https://kbr.id/NASIONAL/12-2018/tsunami_selat_sunda__warga_pulau_kecil_minta_dievakuasi/98545.html">Badan Geologi Minta Pemda Perbaiki Tata Ruang di Kawasan Sekitar Krakatau&nbsp;</a></span></b></li>
    
    <li><b><span id="pastemarkerend"><a href="https://kbr.id/NASIONAL/12-2018/dua_dugaan_berbeda_penyebab_tsunami_pandeglang_versi_bppt_dan_lipi/98519.html">PVMBG Sebut Tsunami di Banten Tidak Berkaitan Dengan Aktivitas Krakatau</a></span></b></li></ul>
    

    Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

  • Sukoco Sujarwo6 years ago

    Yang penting harus tetap waspada www.wikipedia.com