BERITA

AJI se-Jatim Deklarasikan 'Jurnalis Independen' Kawal Pilkada Serentak

"Ketua AJI Malang sekaligus Koordinator AJI Jawa Timur Hari Istiawan mengatakan jurnalis harus menjaga independensinya dengan tidak mendukung salah satu calon peserta pilkada. "

AUTHOR / Zainul Arifin

AJI se-Jatim Deklarasikan 'Jurnalis Independen' Kawal Pilkada Serentak
Ilustrasi warga Papua menggunakan hak suara pada pemilu. (Foto sumber situs kesbangpol.kemendagri.go.id)

KBR, Malang – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) se-Jawa Timur mendeklarasikan Jurnalis Independen untuk mengawal Pilkada serentak 2015. 

AJI mengimbau jurnalis tidak terlibat dalam tim sukses salah satu pasangan calon peserta pilkada. 

Ketua AJI Malang sekaligus Koordinator AJI Jawa Timur Hari Istiawan mengatakan jurnalis harus menjaga independensinya dengan tidak mendukung salah satu calon peserta pilkada. 

Dia meminta jurnalis untuk berhenti dari profesi jurnalis jika terlibat sebagai tim pemenangan.

"Momen pilkada serentak tahun 2015 ini AJI se-Jawa Timur mengkampanyekan kepada jurnalis agar tak terlibat dalam politik praktis. Artinya, kita mengimbau jurnalis agar tidak menjadi juru kampanye atau menjadi tim sukses salah satu pasangan calon," kata Hari.

Koordinator AJI Jawa Timur Hari Istiawan menambahkan momentum pilkada serentak 2015 menjadi ujian terhadap independensi jurnalis. Media juga harus menghasilkan berita yang berkualitas, informatif sekaligus sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat. 

Hari menambahkan AJI juga akan memantau dan mengawasi konten media. Selain itu AJI juga mengkampanyekan kepada penyelenggara pilkada dan partai politik agar menyelesaikan sengketa pemberitaan sesuai UU Pers Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pers.

Editor: Agus Luqman 

  • pilkada serentak 2015
  • pilkada serentak
  • AJI
  • aliansi jurnalis independen
  • independensi media
  • jawa timur

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!