BERITA

'Waspada Permainan Pemilihan Capim KPK di DPR'

"Ada kerancuan dalam hal pemilihan calon pimpinan KPK terutama menyangkut dua nama yang sudah masuk ke DPR sebelumnya yaitu Busyro Muqodas dan Robbi. "

AUTHOR / Yudi Rachman

'Waspada Permainan Pemilihan Capim KPK di DPR'
Uji kompetensi calon pimpinan KPK.

KBR, Jakarta - Pengamat hukum dari Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar) Asep Iwan Iriawan mengkhawatirkan adanya permainan dalam pemilihan calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di parlemen.

Kekhawatiran itu disampaikan menjelang Panitia Seleksi KPK memilih delapan nama dalam seleksi terakhir untuk kemudian diserahkan ke Presiden Joko Widodo. Delapan nama nanti akan diserahkan ke DPR untuk diuji kelayakan dan kepatutan.


Menurut Asep, ada kerancuan dalam hal pemilihan calon pimpinan KPK terutama menyangkut dua nama yang sudah masuk ke DPR sebelumnya yaitu Busyro Muqodas dan Robbi. Asep mengatakan selama ini tidak ada aturan soal kewajiban memilih nama dari hasil seleksi pansel KPK.


"Saya takutkan di DPR, itu sudah ada dua nama. Dari 10 kan harus dipilih lima. Apakah DPR akan memilih dua tidak dipilih, diajukan 8 untuk memilih lima atau sebaliknya dua dipilih ambil tiga? Apakah dua, Busyro dan Robbi akan dipilih salah satu atau dua-duanya tidak dipilih dan memilih lima yang baru ini. Itu juga belum ada aturannya, saya khawatir DPR main di situ," jelas Asep Iwan Iriawan di Jakarta, Senin (17/8).


Sebelumnya, sudah ada 19 nama calon pimpinan KPK yang lolos ke tahap seleksi keempat yaitu wawancara dan tes kesehatan. Nama yang lolos itu terdiri dari perwakilan jaksa, kepolisian, aktivis antikorupsi, advokat dan lingkar dalam pegawai KPK.


Tes kesehatan akan dilakukan pada 18 Agustus, dan wawancara 24-27 Agustus. Terakhir, Pansel KPK akan melaporkan hasil seleksi kepada Presiden Joko Widodo pada 31 Agustus 2015.


Editor: Agus Luqman 

  • Pansel KPK
  • capim kpk
  • KPK
  • Busyro Muqoddas
  • fit proper test DPR
  • antikorupsi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!