Wabup Undurkan Diri Jika Jokowi Tak Akhiri Konflik Nduga

Pengunduran diri wakil bupati bisa batal jika pemerintah bersedia memenuhi tuntutannya menarik pasukan non-organik dari Nduga.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 25 Des 2019 14:47 WIB

Author

Dian Kurniati

Wabup Undurkan Diri Jika Jokowi Tak Akhiri Konflik Nduga

Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga, Wamena, Papua, Rabu (5/12/2018). (ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra)

KBR, Jakarta- Wakil Bupati Nduga, Papua Wentius Nemiangge berencana mengundurkan diri dari jabatannya jika Presiden Joko Widodo tak mampu mengakhiri konflik di wilayahnya.

Wentius mengaku kecewa pada Jokowi karena mengabaikan permintaannya untuk menarik semua pasukan militer.

Ia menyebut, selama di Nduga, aparat menganiaya dan membunuh warga, hingga menimbulkan ketakutan pada warga lainnya.

"Mereka (warga) tidak tenang hidupnya. Maka, saya sebagai bapaknya, sebagai ibunya, kalau kami masih duduk manis, tapi rakyat menderita, mati-mati, tidak aman, tapi saya duduk di kursi empuk saja, berarti itu bukan cara hidupnya," kata Wentius kepada KBR, Rabu (25/12/2019).

Rencana pengunduran diri wakil bupati dilakukan di depan warga, pada Senin (23/12/19).

Baca juga:
Kampungnya Diduduki Tentara, Warga Nduga Rayakan Natal di Pengungsian
Surati Presiden, MRP Minta Pengurangan Pasukan di Nduga

Saat ini, Wentius mengaku masih menyiapkan surat pengunduran dirinya kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Pengunduran diri wakil bupati bisa batal jika pemerintah bersedia memenuhi tuntutannya menarik pasukan non-organik dari Nduga.

Hanya aparat anggota Damrem dan Polres yang boleh berada di wilayah tersebut.

Sikap Wentius ini mendapat dukungan dari Presiden Gereja-Gereja Baptis Papua Socrates Sofyan Yoman.

Menurutnya, sikap itu merupakan kritik tajam untuk Presiden Joko Widodo karena mengabaikan permintaan penarikan pasukan militer dari Nduga.

"Itu suatu sikap protes yang luar biasa. Pemerintah harus serius berpikir, bila perlu, aparat di sana ditarik. Tidak ada gunanya, tidak memberikan jaminan keamanan juga," tutur Socrates.  

Socrates mengatakan warga Nduga masih takut dan trauma kembali ke kampung mereka, yang saat ini masih diduduki tentara.

Nduga menjadi wilayah konflik sejak awal Desember 2018, ketika sejumlah pekerja proyek Trans Papua di kawasan Nduga dibunuh oleh kelompok bersenjata.

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia mengirim pasukan TNI ke Nduga dan menggelar operasi militer di sana.  

Berbagai kalangan termasuk kepala daerah di Nduga telah berulang kali mendesak agar pasukan militer segera ditarik kembali. Namun, permintaan ini tak digubris.


Editor: Ardhi Rosyadi 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18