Kampungnya Diduduki Tentara, Warga Nduga Rayakan Natal di Pengungsian

"Operasi militer masih ada di sana, terus berlangsung. Jadi tidak ada ketenangan."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 24 Des 2019 15:46 WIB

Author

Dian Kurniati, Adi Ahdiat

Kampungnya Diduduki Tentara, Warga Nduga Rayakan Natal di Pengungsian

Ilustrasi: Anak-anak warga Kabupaten Nduga, Papua. (Foto: www.kemkes.go.id)

KBR, Jakarta - Puluhan ribu warga Kabupaten Nduga, Papua kembali merayakan Natal di pengungsian. Hal ini disampaikan Socrates Sofyan Yoman, Presiden Gereja-Gereja Baptis Papua.

Socrates mengatakan warga Nduga masih takut dan trauma kembali ke kampung mereka, yang saat ini masih diduduki tentara.

Menurut Socrates, kini warga Nduga masih mengungsi ke sejumlah wilayah seperti di Kabupaten Lanny Jaya, Puncak Jaya, Jayawijaya, hingga Jayapura.

"Kalau masyarakat sudah tidak ada di sana (Nduga). Paling ada di kota, tapi kalau di kampung-kampung mereka sudah mengungsi. Operasi militer masih ada di sana, terus berlangsung. Jadi tidak ada ketenangan," kata Socrates kepada KBR, Selasa (24/12/2019).

Nduga menjadi wilayah konflik sejak awal Desember 2018, ketika sejumlah pekerja proyek Trans Papua di kawasan Nduga dibunuh oleh kelompok bersenjata.

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia mengirim pasukan TNI ke Nduga dan menggelar operasi militer di sana.  

Berbagai kalangan termasuk kepala daerah di Nduga telah berulang kali mendesak agar pasukan militer segera ditarik kembali. Namun, permintaan ini tak digubris.

"Kami harap negara bijaksana, memberikan kebijaksaan, memberikan ketenangan. Gereja di sana, umat di sini, bisa merayakan Natal secara baik," lanjutnya.

Socrates menjelaskan gereja-gereja di Lanny Jaya, Puncak Jaya, dan Jayawijaya menyiapkan perayaan Natal sederhana untuk para pengungsi, mulai misa malam hingga kebaktian Natal pada 25 Desember. Menurut dia, hingga kini warga Nduga tak mendapat bantuan dari pemerintah.

Berita Terkait:

Sementara itu, Wakil Bupati Nduga Wentius Nemiangge disebut telah mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (23/12/2019). Wentius mundur lantaran kecewa warganya tewas ditembak aparat. 

Sikap Wentius ini mendapat dukungan dari Socrates. Menurutnya, sikap itu merupakan kritik tajam untuk Presiden Joko Widodo karena mengabaikan permintaan penarikan pasukan militer dari Nduga. 

"Itu suatu sikap protes yang luar biasa. Pemerintah harus serius berpikir, bila perlu, aparat di sana ditarik. Tidak ada gunanya, tidak memberikan jaminan keamanan juga," tutur Socrates. 

Socrates memuji Wentius lantaran berani menanggalkan jabatannya lantaran tak ingin warga Nduga diperlakukan tak adil oleh negara.  

Editor: Ninik Yuniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Virus Corona Bunuh 80 Orang, Indonesia Belum Keluarkan Travel Ban