Indonesia Kekurangan Orang Cerdas, LIPI Ajak Diaspora 'Pulang Kampung'

"Rasio jumlah SDM iptek sangat rendah, yaitu 1 banding 934 penduduk."

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Des 2019 18:22 WIB

Author

Adi Ahdiat

Indonesia Kekurangan Orang Cerdas, LIPI Ajak Diaspora 'Pulang Kampung'

Aktivitas peneliti di laboratorium Pusat Biologi Tropis Asia Tenggara (Seameo Biotrop) Tajur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/12/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengajak peneliti Indonesia yang tersebar di luar negeri atau diaspora untuk 'pulang kampung'.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko berharap para peneliti diaspora itu bisa berkreasi dan berinovasi di Indonesia.

"Fokus kita terkait diaspora adalah bagaimana merekrut sebanyak mungkin orang-orang terbaik, SDM (sumber daya manusia) unggul, untuk kembali ke negara ini. Itu dulu. Jangan dibebani dengan ini-itu," kata Handoko dalam diskusi di Gedung LIPI, Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (9/12/2019).

"Inovasi, tidak akan muncul tanpa adanya SDM unggul yang mencetuskannya, dan negara bisa memberikan ruang untuk para peneliti, diaspora atau lulusan S3 terbaik Indonesia untuk berkreasi sesuai bidangnya," lanjut Handoko.

Menurut Handoko, sejak tahun 2014 LIPI sudah aktif mencari dan merekrut diaspora untuk bergabung ke LIPI.

Sejak 2018 pemerintah juga sudah membuka jalur diaspora sebagai salah satu mekanisme penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di LIPI. 


Indonesia Minim SDM Iptek

Menurut LIPI, Indonesia butuh peneliti diaspora karena SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di dalam negeri masih sangat minim.

"Rasio jumlah SDM iptek sangat rendah, yaitu 1 banding 934 penduduk," jelas LIPI di situs resminya, Senin (9/12/2019).

Hal ini ditanggapi Osi Arutanti, peneliti Indonesia yang pernah menetap di Jepang selama lima tahun, kemudian bergabung di Pusat Penelitian Kimia LIPI sejak 2018.

Menurut Osi, untuk menarik peneliti diaspora kembali ke Indonesia, pemerintah perlu membangun ekosistem riset yang menyediakan kebebasan dan keleluasaan riset.

“Kadang kita berbenturan dengan birokrasi, hal ini sebaiknya dapat dipermudah. Saat ini saya melihat LIPI sudah mulai berubah ke arah tersebut,” kata Osi dalam situs resmi LIPI, Senin (9/12/2019).

Masalah birokrasi itu juga disinggung peneliti diaspora lain, Ayu Savitri Nurinsiyah. Ayu adalah ahli biologi yang pernah menetap di Jerman selama delapan tahun dan bergabung ke LIPI mulai tahun 2019.

“Penelitian saya melibatkan koleksi spesimen di museum. Saya merasa terkadang akses untuk meminjam spesimen ini seharusnya dapat dipermudah,” kata Ayu. 

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko pun menyatakan niatnya untuk mewujudkan lingkungan fleksibel bagi para diaspora.

“Diaspora tidak perlu dituntut macam-macam dahulu. Kita buat ekosistem yang sesuai untuk mereka, agar mereka datang dengan membuat peraturan yang fleksibel, tidak ribet, dan kebebasan riset,” kata Handoko, seperti dilansir situs LIPI, Senin (9/12/2019).


Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Erlin: Edutrip Hadir untuk Meningkatkan Minat Anak ke Museum