Biodiesel B30 Diharapkan Tekan Kebutuhan Solar Nasional

Perlu dukungan pihak swasta, sekaligus jaminan pasokan bagi publik.

BERITA | NASIONAL

Senin, 23 Des 2019 14:07 WIB

Author

Resky Novianto, Siti Sadida

Peresmian implementasi Biodiesel B30 oleh Presiden Joko Widodo, Menko Perekonomian Airlangga Hartant

Peresmian implementasi Biodiesel B30 oleh Presiden Joko Widodo, Menko Perekonomian, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Dirut Pertamina (23/12/2019) (Foto: Antara)

KBR, Jakarta Pemerintah resmi meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) Biodiesel B30 atau 30 persen campuran dari minyak nabati di Jakarta, hari ini, Senin (23/12/2019). 

Mulai hari ini juga, penyaluran BBM Biodiesel B30 akan dilakukan dengan target penyaluran secara merata tercapai pada 1 Januari 2020. 

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut, Biodiesel B30 diharapkan akan memenuhi kebutuhan dan stok bahan bakar di dalam negeri. 

"Kita (optimis) mau melakukan pengkajian pemantapan dulu dan melakukan pilot plan (B40). Laboratorium tes sudah, sekarang mau di-scale-up pilot, sesudah pilot-nya bagus, baru ke komersial. Untuk merespon kebutuhan energi ke depan. Kan di B100 (kuncinya) ada di situ (minyak nabati)," ucap Arifin Tasrif seusai Peluncuran Biodiesel B30 oleh Presiden Jokowi di SPBU Pertamina, Jl MT Haryono, Jakarta, Senin (23/12/2019).

Kehadiran Biodiesel B30, kata Arifin, merupakan wujud nyata komitmen pemerintah, untuk terus mencukupi kebutuhan energi bagi masyarakat. Selain itu, pengembangan riset juga terus dilakukan, sebagai rencana untuk menghadirkan campuran minyak nabati yang lebih tinggi dengan B40 hingga B50, untuk mengurangi ketergantungan impor luar negeri dengan energi baru terbarukan (EBT). 


Pertamina: Tahun depan akan campur minyak nabati ke avtur 

PT Pertamina (Persero) menyebut peluncuran Biodesel B30, efektif menekan kebutuhan solar nasional. 

Direktur Utama (Dirut) Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, campuran minyak nabati dalam solar hingga 30 persen, sangat mempengaruhi kebutuhan solar nasional yang otomatis akan berkurang. Nicke juga berencana akan mencampur minyak nabati ke avtur sebagai bahan bakar, mulai tahun depan.

"Pengurangan solar nasional pun meningkat (karena B30), kita berkurang lagi. Sehingga ada kelebihan nanti yang kita akan mulai masuk ke green avtur," ucap Nicke Widyawati saat Acara Peluncuran B30 di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta, Senin (23/12/2019).

Program B30 ditargetkan bisa menyerap 9,6 juta kiloliter PAME pada 2020 mendatang. Nicke optimistis B30 bisa disalurkan ke seluruh Indonesia secara merata pada 1 Januari 2020. Program ini disebut Nicke, mampu meningkatkan penghematan devisa negara dari Rp 43 triliun menjadi Rp 63 triliun serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut program Biodiesel B30 sebagai bentuk optimalisasi produk minyak sawit Indonesia.


Kementerian BUMN: Peran swasta sangat penting 

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut, peran swasta sangat penting dalam mendukung kelancaran program biodiesel B30. Kata Erick, PT Pertamina bekerja sama dengan 18 perusahaan swasta untuk ini. Terutama untuk mengatasi kendala yang ada di lapangan dan memenuhi pasokan Biodiesel B30 ke seluruh tanah air. 

“Katanya Pertamina kan selama ini arogan, soliter, swasta juga sendiri-sendiri, kan tidak. Makanya Pertamina dan swasta bekerja sama melakukan B30 ini, dan ingat loh, Pom-pom bensin ini tidak semuanya punya Pertamina, banyak juga punya individu-individu yang jualan seperti ini," ucap Erick Thohir.

Peranan swasta salah satunya dengan ikut menjual biodiesel B30 di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik individu atau perseorangan non Pertamina. Ia pun mengapresiasi hadirnya B30, yang diharapkan bisa menjawab pasokan kebutuhan BBM dalam negeri dengan energi baru terbarukan (EBT). Penerapan B30, kata Erick, juga turut menghemat devisa negara dengan menekan impor migas.


Pengamat: Pasokan B30 belum terjamin 

Pengamat energi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radi menilai pemerintah belum siap dalam menjamin pasokan Biodiesel B30. 

Saat ini Kementerian ESDM menetapkan 18 badan usaha penyedia Bahan Bakar Nabati (BBN). Menurut Fahmi, jumlah ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan yang ada. 

"Ini yang menjadi tantangan bagi pemerintah, terutama Pertamina dan pihak lain dalam menjamin keberlangsungan pasokan tadi. Jadi ketersediaannya harus terjamin. Toh kalau misalnya di sisi konsumen sudah dipaksa menggunakan tidak ada barangnya. Ini kan juga menjadi blunder. Maka dalam waktu yang bersamaan itu, Pertamina atau penyedia B30 lainnya, ini harus bisa menjamin ketersediannya. Untuk memasok sesuai dengan peningkatan kebutuhan dari B30," ujar Fahmi. 

Selain jaminan pasokan, kata dia, pemerintah juga harus gencar membangun infrastruktur yang memadai. Sehingga mendukung percepatan migrasi konsumen, dari penggunaan BBM biasa menjadi Biodiesel 30 persen (B30) untuk kendaraannya.

Hari ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan biodiesel B30 di SPBU MT Haryono Jakarta. Jokowi mengungkapkan implementasi program biodiesel 30% alias (B30) mampu menghemat devisa sebesar Rp 63 triliun atau setara dengan US$ 4,3 miliar. Menurut Jokowi hal itu akan berdampak positif bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang sampai saat ini masih defisit alias tekor.


Editor: Citra Dyah Prastuti  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Virus Corona Bunuh 80 Orang, Indonesia Belum Keluarkan Travel Ban