Dirut Bulog: Tak Ada Lagi Impor Beras Tahun Depan

Empat bulan ini, saya paling mengeluarkan 400 ribu ton, perhitungan saya, atau 300 ton. 300 ribu kali empat kan, 1,2 juta ton. Kita masih punya 2,2 juta ton, berarti kita masih sisa 1 juta ton.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 27 Des 2018 20:16 WIB

Author

Dian Kurniati

Dirut Bulog: Tak Ada Lagi Impor Beras Tahun Depan

Ilustrasi pekerja yang mengangkut beras. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso memastikan tak akan ada impor beras pada tahun depan.

Saat ini, stok di gudang Bulog mencapai 2,2 juta ton dan cukup untuk menstabilkan harga beras di pasaran, meski perkiraan panen raya di tahun depan akan mundur, dari jadwal biasanya yaitu dari April menjadi Juni.

Buwas, begitu ia akrab disapa, mengatakan Bulog bisa menggelontorkan banyak beras selama musim tanam padi dan akan menyerap banyak beras petani saat panen raya tiba.

"Empat bulan ini, saya paling mengeluarkan 400 ribu ton, perhitungan saya, atau 300 ton. 300 ribu kali empat kan, 1,2 juta ton. Kita masih punya 2,2 juta ton, berarti kita masih sisa 1 juta ton. Kalau sama sekali tidak menyerap. Tetapi begitu Mei-Juni, mulai panen raya. Kembali lagi pasti stok kita, pasti. Insyaallah, Insyaallah (tidak ada impor tahun depan)," katanya ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (27/12/2018).

Budi mengatakan, Bulog hanya bertugas menutup kekurangan kebutuhan konsumsi beras masyarakat yang rata-rata sebanyak 2,5 juta ton per bulan, atau menstabilkan harga yang terlalu tinggi.

Tugas tersebut bisa dilakukan dengan 2,2 juta ton stok yang telah ada di gudang Bulog, karena jumlah itu jauh di atas ketentuan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), yaitu minimal 1 juta ton.

Bulog juga menyebut, realisasi pengadaan beras sepanjang Januari hingga 27 Desember 2018 adalah sekitar 3 juta ton, yang 1,8 juta ton di antaranya adalah impor dan ada sekitar 2,2 juta ton di gudang Bulog.

"Jika 1,2 hingga 1,5 juta ton digelontorkan sebelum musim panen raya, menurut Budi, tetap tak masalah karena kekurangannya akan segera ditambal saat masa panen tiba. Meski begitu, pemerintah juga tak ada target khusus soal serapan beras petani pada tahun depan, karena baru akan menyerap saat harga di tengkulak jatuh," kata Buwas.

Presiden Joko Widodo, juga memerintahkan Bulog untuk memperbanyak Operasi Pasar untuk menurunkan harga beras yang naik dalam tiga pekan terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, Presiden Jokowi ingin harga beras segera turun.

"Jadi enggak banyak. Sehingga, Presiden memerintahkan operasi pasar lebih besar lagi. Nanti saya akan lihat, tanggal 2 Januari di Bulog seperti apa. Artinya, presiden mintanya ya yang naik itu turunkan lagi. Itu berarti operasi pasarnya harus naik. Pertanyaannya memang, penetrasi Bulognya seberapa luas? Nah itu yang kemudian Pak Presiden juga mau cek," kata Darmin di lokasi yang sama.

Darmin mengatakan, operasi pasar tersebut akan diadakan di seluruh Indonesia terutama di daerah yang mengalami kenaikan harga beras.

Prioritas operasi pasar saat ini ada di DKI Jakarta, karena mengalami lonjakan harga tertinggi dan Bulog akan menggelontorkan 64 ribu ton beras untuk operasi pasar per bulan, atau rata-rata 2 ribu ton per hari.

Ditambahkannya, kenaikan beras tertinggi memang terjadi pada beras medium, sedangkan harga beras premium masih di bawah harga eceran tertinggi. Alasannya, pasokan beras premium cukup melimpah, dari padi yang dipanen pada musim kemarau dengan kadar air rendah.

Baca juga:

Editor: Kurniati 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Narapidana Korupsi Bisa Menang di Pilkada 2020