Panas Ekstrem, Ratusan Ayam Siap Panen di Jombang Mati

"Biasanya dua yang mati maksimal lima ekor per hari. Kalau sekarang bisa meningkat 20 bahkan juga 50 ekor kematian per hari,"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 01 Nov 2019 11:51 WIB

Author

Muji Lestari

Panas Ekstrem, Ratusan Ayam Siap Panen di Jombang Mati

Peternak di Jombang, Jatim menunjukkan ayam yang mati akibat kepanasan, Jumat (01/11). (Foto: KBR/Muji L.)

KBR, Jakarta-  Para peternak ayam potong di Jombang, Jawa Timur, mengeluh lantaran ratusan ekor ayam miliknya mati mendadak Jumat (1/11/2019).  Diduga, kematian ayam jenis broiler tersebut disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di wilayah setempat. Suhu yang cukup panas di siang hari membuat keinginan makan ayam di kandang hilang sehingga ayam-ayam tersebut kehabisan energi lalu mati.

Salah satu peternak, Iza Rohman Fadli di Desa Brambang Kecamatan Diwek menyebut, hampir setiap hari sekitar 20 hingga  50 ekor ayam di kadangnya  mati secara tiba-tiba. Ayam potong yang mati tersebut rata-rata berumur siap panen dengan berat sekitar 2 kilogram.

"Akibatnya ayam broiler yang kami rawat ini mati akibat kepanasan di siang hari. Cuacanya sangat ekstrem, malamnya dingin, ayam tidak mau makan dan  minum kemudian energinya kosong akhirnya sering gampang mati," ungkap Iza.

Iza merinci sudah ada ratusan ayam miliknya yang siap panen mati akibat kepanasan. Kata dia, kejadian ini sudah berlangsung lebih dari dua minggu.

"Bulan-bulan sebelumnya pernah, tapi tidak separah ini. Ini ayam kapasitas 3 ribu ekor, biasanya dua yang mati maksimal lima ekor per hari. Kalau sekarang bisa meningkat 20 bahkan juga 50 ekor kematian per hari," jelasnya.

Untuk meminimalisir jumlah kematian ayamnya, sejauh ini Iza hanya berupaya menyempot ayam-ayam di kandangnya dengan air. Selain itu, dia juga menyalakan kipas angin berukuran besar.

Iza dan para peternak lainya berharap, ada upaya dari pemerintah menangani cuaca ekstrem ini sehingga peternak ayam tidaka merugi.

"Setiap hari sebenarnya juga kami semprot dan pakai kipas angin tapi ini saya lakukan lebih dari satu kali kalau siang hari, kipas juga nyala terus", pungkasnya.
 

Panas Ekstrem

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu panas ekstrem yang sempat melanda Indonesia beberapa pekan terakhir berakhir.

Menurut Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, mulai November hingga Maret 2020, suhu tertinggi hanya mencapai 37 derajat celcius.

Bahkan di wilayah Jawa, suhu bisa lebih rendah dari prediksi BMKG.

“Nah ini yang cukup menarik bahwa untuk fase saat ini periode saat ini, suhu panasnya itu fase ekstremnya sudah lewat. Jadi mulai sekarang hingga periode bulan Desember hingga Maret, saya kira potensi untuk ekstrem seperti yang kemarin mencapai 39 (derajat celcius) sudah terlewati. Artinya sekarang saja kemarin terpantau kami lihat kisaran 35-37 dan 37 derajat celcius itu masih di wilayah Jawa,” katanya di kantor BNPB, Kamis (31/10/2019).

Miming Saepudin mengatakan, tingginya suhu beberapa hari lalu khususnya di Pulau Jawa akibat pengaruh atmosfer kering, dan minimnya curah hujan.

"Sehingga suhu panas sempat terjadi beberapa hari dan membuat warga gempar," katanya.

Selain suhu panas ekstrem akan berakhir, BMKG juga menyebut, beberapa wilayah di Indonesia akan dilanda hujan lebat. Ia mengatakan, potensi hujan lebat lantaran beberapa bagian Indonesia sudah memasuki awal musim hujan dan fase pancaroba.

“Potensi seminggu ke depan paling tidak sampai pertengahan awal November, bisa kita perhatikan bahwa potensi hujan masih harus diwaspadai dengan intensitas lebat di wilayah Aceh, Sumatera Utara, kemudian di wilayah Sumatera, Palembang, kemudian Sumatera Selatan, wilayah Jawa juga perlu diwaspadai selama bulan November, kemudian Kalimantan juga cukup signifikan seminggu ke depan, demikian juga untuk wilayah Sulawesi terutama Sulawesi bagian tengah dan Papua,” katanya.

Miming menyatakan, wilayah Sumatra dan Jawa diprediksi hujan ekstrem disertai puting beliung dan es, dibanding wilayah lain di Indonesia.

Namun, tingkat keekstreman dari hujan yang disertai puting beliung dan es itu jauh lebih rendah dibanding pada tahun sebelumnya.

“Namun kami tetap meminta agar masyarakat tetap mewaspadai fenomena tersebut," pungkas Miming Saepudin.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik