Pak Prabowo, Mahasiswa Ogah Dijadikan Komponen Cadangan

"Sampai kapan pun kami akan tetap mempertahankan NKRI, cuma dengan caranya masing-masing. Mahasiswa dengan caranya masing-masing."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 12 Nov 2019 18:07 WIB

Author

Astri Yuana Sari, Dian Kurniati, Adi Ahdiat, Astri Septiani

Pak Prabowo, Mahasiswa Ogah Dijadikan Komponen Cadangan

Ilustrasi: Aksi menuntut pengusutan kasus penembakan dua mahasiswa dalam demo tolak RUU bermasalah di Kendari, Sultra (27/9/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta- Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto berencana menggandeng lembaga pendidikan untuk membentuk Komponen Cadangan.

"Contoh kerja sama dengan Kementerian Pendidikan untuk menyusun Komponen Cadangan, pendidikan, latihan perwira-perwira cadangan, latihan-latihan untuk Komponen Cadangan, akan banyak peran daripada Kemendikbud di SMA/SMK, bahkan mungkin sedini mungkin, SMP, dan nanti perguruan tinggi," kata Prabowo, Senin (11/11/2019).

Dalam sektor pertahanan, istilah "Komponen Cadangan" berarti unit bantuan militer dari kalangan masyarakat sipil.

Unit tersebut akan dibina negara, kemudian dikerahkan saat negara hendak memobilisasi perang atau harus bertahan dari serangan pihak tertentu.


Mahasiswa Menolak

Perwakilan mahasiswa menolak tegas rencana Menhan Prabowo melibatkan perguruan tinggi dalam pembentukan Komponen Cadangan. 

Menurut Koordinator Wilayah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek dan Banten, Erfan Kurniawan, jati diri mahasiswa adalah jiwa intelektual, bukan militer. 

"Kalau untuk sekolah khusus militer, seharusnya ini dikembalikan kepada Akmil (Akademi Militer), karena itu wadah khusus bagi siapa saja yang ingin masuk ke dalam militer, tidak perlu diwajibkan, tidak perlu dipaksakan. Karena dalam bela negara, kami bisa memilih jalannya masing-masing, tidak perlu lewat jalur militer," kata Erfan kepada KBR, Selasa (12/11/2019).

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini juga menyebut kalangan mahasiswa punya cara sendiri untuk membela negara.

"Kalau bela negara, justru ini yang selalu kami junjung tinggi ya. Karena sampai kapan pun kami akan tetap mempertahankan NKRI, cuma dengan caranya masing-masing. Mahasiswa dengan caranya masing-masing, entah itu mereka turun ke masyarakat untuk mengembangkan terkait dengan potensi diri masing-masing masyarakat, dan menanamkan rasa cinta terhadap tanah air," kata Erfan.


Mendikbud Bakal Temui Menhan

Di kesempatan terpisah, Mendikbud Nadiem Makariem mengaku belum punya gambaran jelas soal rencana pelibatan kementeriannya dalam urusan Komponen Cadangan.

Ia pun menyatakan bakal bertemu langsung dengan Prabowo untuk membicarakan hal ini

"Belum, belum sempat bicara sama Bapak (Prabowo). Tapi saya akan bicara dengan Pak Menhan mengenai ini (Komponen Cadangan)," kata Nadiem, Selasa (12/11/2019).


Komponen Cadangan Tidak Urgensi

Lembaga pemantau hak asasi manusia Imparsial menyatakan tak ada urgensi bagi pemerintah untuk membentuk komponen cadangan. Wakil Direktur Imparsial, Ghufron Mabruri beralasan saat ini Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman militer dari negara lain. Ghufron khawatir adanya komponen cadangan malah menimbulkan masalah lain, yaitu militerisasi warga sipil dan potensi penyalahgunaan kewenangan. 

"Mencerminkan bahwa pemerintah kita terutama Kementerian Pertahanan tampaknya tidak memiliki agenda prioritas dalam pembangunan sektor pertahanan kita gitu. Maksud saya dalam situasi di mana komponen utama masih membutuhkan perbaikan penataan dan penguatan seharusnya kan itu yang diprioritaskan oleh pemerintah terlebih dahulu daripada membentuk komponen cadangan," kata Ghufron saat dihubungi KBR (12/11/19).

Wakil Direktur Imparsial, Ghufron Mabruri meminta pemerintah menyelesaikan sejumlah persoalan non-militer seperti radikalisme dan kejahatan siber. Menurutnya, hal itu lebih penting dibanding menyiapkan komponen cadangan wajib militer. Selain itu, ia juga mendorong pemerintah memerhatikan aspek kesejahteraan militer. Di antaranya moderenisasi alutsista, dan penguatan profesionalisme TNI.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme