Mengenal Gambut: Kekayaan Alam yang Hangus Gara-Gara Salah Kelola

"Dia (gambut) seperti tumpukan korek api kalau kering. Kalau sudah terbakar cepat sekali menyambar."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 13 Nov 2019 16:00 WIB

Author

Adi Ahdiat

Mengenal Gambut: Kekayaan Alam yang Hangus Gara-Gara Salah Kelola

Lahan gambut bekas terbakar di Desa Sungai Sigajah, Rokan Hilir, Riau (22/8/2019). (Foto: Pantau Gambut)

KBR, Jakarta - Gambut adalah lahan rawa basah yang terbentuk dari tumpukan sisa-sisa "jasad" tumbuhan selama ribuan tahun.

Menurut lembaga konservasi internasional IUCN, lahan jenis ini punya peran penting bagi kehidupan flora, fauna, dan manusia. 

"Gambut merupakan penunjang ekosistem yang vital. Dalam kondisi alaminya, gambut bisa membantu mencegah bencana banjir dan kekeringan, bisa memasok bahan pangan, serta menunjang perekonomian lokal," jelas IUCN dalam situs resmi mereka.

Hal senada juga disampaikan Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia.

"Lahan gambut bisa menjadi sumber rezeki kalau kita tanami dengan tanaman yang cocok," kata Kepala BRG Nasir Fuad dalam talkshow Ruang Publik KBR, Rabu (13/11/2019).


Salah Kelola Gambut di Indonesia

Indonesia punya lahan gambut yang melimpah. Bahkan menurut lembaga riset kehutanan internasional CIFOR, lahan gambut Indonesia adalah yang kedua terluas di dunia setelah Brazil.

Namun sayangnya, sejak berpuluh-puluh tahun lalu karunia alam itu dikelola dengan cara yang salah. Setiap tahunnya ratusan ribu hektare lahan gambut Indonesia pun hangus terbakar. 

"Karena ada kesalahan di masa lalu, di mana lahan gambut ini dikeringkan untuk dijadikan pemukiman, sawah, kebun, dan seterusnya, akhirnya air yang mestinya tertampung (di lahan gambut) itu hilang," jelas Kepala BRG Nasir Fuad.

"Dia (gambut) seperti tumpukan korek api kalau kering. Kalau sudah terbakar cepat sekali menyambar," jelasnya lagi.

Sejak era Presiden Soekarno, pemerintah Indonesia memang banyak memanfaatkan lahan gambut untuk kegiatan pertanian. Namun, pemanfaatan itu dilakukan dengan metode pengeringan lahan, yang notabene merusak gambut.

Upaya serupa makin gencar lagi di era Presiden Soeharto lewat Proyek Lahan Gambut (PLG) Mega Rice Estate Project, di mana jutaan hektare gambut dikeringkan untuk dijadikan ladang padi.

Pada kelanjutannya PLG pun tidak berjalan sesuai rencana. Setelah pemerintah dan masyarakat melakukan pengeringan besar-besaran, banyak lahan yang malah ditelantarkan.

"PLG mengalami kegagalan dan menjadi lahan terlantar selama bertahun-tahun, sehingga menjadi rentan kebakaran dan sumber emisi karbon," jelas Nina Yulianti dalam bukunya Mari Belajar Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (2018).

"Contohnya, selama kabut asap (karhutla) pada tahun 2015, mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan serius seperti asma, ISPA, dan penyakit paru-paru, hingga mengakibatkan kematian masyarakat desa yang rawan karhutla, seperti di area bekas Proyek Lahan Gambut," jelas Nina lagi.


Membuat Gambut Basah Lagi

Demi memperbaiki kondisi di atas, pemerintah Indonesia membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) pada tahun 2016.

BRG bertugas memulihkan ekosistem gambut dengan membuatnya kembali basah, sekaligus mengedukasi masyarakat supaya tidak mengelola lahan gambut dengan cara membakar.

Namun, menurut organisasi masyarakat sipil Pantau Gambut, hingga sekarang kinerja BRG belum menunjukkan hasil yang signifikan.

"Hasil tinjauan kami, lokasi-lokasi yang terintervensi (program BRG) masih ada api. Ada juga beberapa infrastruktur (restorasi gambut) yang kami temui di lapangan beberapa kondisinya sudah jebol, sudah tidak seperti peruntukkannya," kata Research Analyst Pantau Gambut Agil Prakoso dalam talkshow Ruang Publik KBR, Rabu (13/11/2019).

"Fokus kami tidak menyalahkan, kami membantu untuk mengecek kondisi lapangan," tambah Agil.

Di kesempatan sama, Kepala BRG Nasir Fuad mengakui bahwa pekerjaan pemulihan gambut memang bukan hal mudah.

"Untuk melembabkan lahan gambut jutaan hektare, yang sudah terbangun jutaan kilometer kanal (pengeringan), itu memang butuh tenaga ekstra dari semua pihak, dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, masyarakat, dan perusahaan," kata Kepala BRG Nasir Fuad.

"Di Jepang, restorasi 300 hektare gambut butuh waktu 10 tahun, itu pun belum selesai. Jadi memang butuh waktu yang lama, apalagi kalau gambutnya sudah rusak parah seperti banyak sekali tempat di Indonesia," kata Nasir lagi.

Nasir pun menegaskan pemerintah akan terus berupaya memulihkan dan mencegah kebakaran gambut, baik melalui upaya patroli, edukasi masyarakat, serta pendeteksian titik api di lahan gambut.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Majalah Time Menobatkan Greta Thunberg sebagai Person of the Year

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17