Bahaya SKB Menteri soal Radikalime ASN versi Komnas HAM

"Ada beberapa hal yang harus dipahami atau harus benar-benar jadi acuan. Misalnya begini, apa menjadi faktor like and dislike. Kemudian secara serampangan mengkategorikan ASN itu radikal atau tidak."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 29 Nov 2019 13:18 WIB

Author

Lea Citra

Bahaya SKB Menteri soal Radikalime ASN versi Komnas HAM

ilustrasi. (Foto: menpan.go.id/Domain Publik)

KBR, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebut Surat Keputusan Bersama (SKB) 11 Menteri tentang Penanganan Radikalisme Aparatur Sipil Negara (ASN) berpotensi menimbulkan penyalahgunaan wewenang dengan mengatasnamakan deradikalisasi.

Anggota Komnas HAM Beka Ulung Habsara menilai SKB Radikalime ASN itu juga melanggar prinsip HAM. Menurut Beka, penerapan SKB itu akan membungkam dan membatasi kebebasan berekspresi ASN.

"Ada beberapa hal yang harus dipahami atau harus benar-benar jadi acuan. Misalnya begini, apa menjadi faktor like and dislike. Kemudian secara serampangan mengkategorikan ASN itu radikal atau tidak. Terus kemudian, proses reward and punishment-nya menjadi sembarangan. Tidak didasarkan pada satu mekanisme baku yang memang menjamin bahwa ASN tersebut bisa memberikan masukan atau kritikan kepada atasannya atau kepada sistem secara keseluruhan," kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara kepada KBR, Jumat (29/11/2019).

Baca juga:


Anggota Komnas HAM Beka Ulung Hapsara meminta pemerintah memberikan kejelasan mekanisme, petunjuk teknis dan definisi terkait radikalime di ASN.

Beka mendesak pemerintah menjamin hak asasi manusia pada implementasi SKB Radikalime ASN. Namun hingga saat ini, belum ada koordinasi terkait SKB ini.

Beka mengungkapkan, Komnas HAM akan memonitor implementasi SKB kedepannya. Menurutnya, Komnas HAM membuka loket pengaduan bagi ASN terkait dengan kemungkinan pelanggaran HAM di penerapan SKB Radikalime ASN.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Majalah Time Menobatkan Greta Thunberg sebagai Person of the Year

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18