Parpol Didesak Beri Sanksi Simpatisan yang Sebarkan Hoaks

"Simpatisan masih tetep menggunakan hoaks, menggunakan fitnah. Kami harap, dengan melakukan roadshow kepada parpol-parpol ini, mereka mau melakukan sesuatu untuk menghentikan ini."

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Kamis, 15 Nov 2018 11:19 WIB

Author

Dian Kurniati

Parpol Didesak Beri Sanksi Simpatisan yang Sebarkan Hoaks

Warga yang tergabung dalam Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) menunjukkan saat unjukrasa menolak hoaks di Alun-alun Tegal, Jawa Tengah (Foto: Antara/Oky Lukmansyah)

KBR, Jakarta- Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) meminta  partai politik  menjatuhkan sanksi tegas kepada simpatisan yang berkampanye dengan menyebarkan hoaks politik, menjelang Pemilu 2019 .  Presidium Mafindo Anita Wahid mengatakan, komitmen kedua kubu untuk tak berkampanye menggunakan hoaks saja belum cukup.

Kata Anita,  kebanyakan pembuat dan penyebar hoaks   adalah simpatisan parpol atau pendukung masing-masing pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.

"Yang terjadi di tingkat bawah berbeda. Simpatisan masih tetep menggunakan hoaks, menggunakan fitnah. Kami harap, dengan melakukan roadshow kepada parpol-parpol ini, mereka mau melakukan sesuatu untuk menghentikan ini. Itu sebabnya kami butuh parpol mau terjun langsung, entah mungkin memberikan sanksi atau apa pun," kata Anita usai peluncuran podcast KBR Prime di Jakarta, Rabu (15/11/2018).

Anita mengatakan, sejauh ini Mafindo telah menemui empat dari 14 pimpinan parpol dan meminta agar mereka lebih tegas kepada simpatisan pembuat dan penyebar hoaks. Anita berkata, kunjungan ini akan terus dilakukan, agar Parpol bertindak tegas melarang simpatisannya menyebarkan hoaks. 

Selain Parpol, Mafindo juga aktif mendatangi tokoh agama agar menyampaikan ceramah berisi bahaya hoaks dan imbauan tak ikut menyebarkannya. Dikatakan Anita, kelompok masyarakat sipil seperti Mafindo, tak akan mampu memerangi hoaks seorang diri. Diperlukan kerjasama dari semua pihak untuk memberantas peredaran hoax yang saat ini lebih cepat dibanding upaya mengklarifikasi.

Kemunculan hoaks yang terpantau Mafindo saat ini hampir sepuluh kali lipat dibanding 2015. Catatan Mafindo menyebut pertumbuhan hoaks meningkat dari rata-rata 10 hoaks per bulan menjadi 96 hoaks pada 2018. 

Baca juga:

Editor: Friska Kalia 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.