Pimpinan ISIS Tewas, BNPT-BIN Waspadai Potensi Aksi Balasan Anggota

"Jadi kita tetap melakukan antisipasi-antisipasi supaya mereka itu juga dipersempit geraknya, sehingga tidak diberi keleluasaan untuk melakukan serangan-serangan."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 29 Okt 2019 23:03 WIB

Author

Valda Kustarini, Wahyu Setiawan

Pimpinan ISIS Tewas, BNPT-BIN Waspadai Potensi Aksi Balasan Anggota

Ilustrasi. (Foto: Cyprus Mail/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada potensi teror balasan para anggota kelompok ISIS, pascatewasnya pimpinan mereka, Abu Bakar al Baghdadi.

Meski begitu, Direktur Perlindungan BNPT Herwan Chaidir enggan membeberkan potensi tersebut secara detail.

Herwan mengatakan pemerintah harus tetap berhati-hati.

"Jelas, kita harus waspada. Mata telinga kita harus terbuka lebar-lebar. Mohon maaf saya tidak bisa diwawancara karena sedang bertugas. Selain itu ini harus pimpinan yang bicara. Saya tidak mau mengeluarkan statemen-statemen apa-apa," kata Herwan Chaidir pada KBR, Selasa (29/10/2019).

Sebelumnya, Kepala BNPT Suhardi menyebut pemerintah bakal memantau perkembangan situasi di Suriah pascakematian Baghdadi.

Mengutip ANTARA, Suhardi mengatakan tewasnya al-Baghdadi tak serta merta mengindikasikan bahwa ISIS di Suriah melemah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya di Gedung Putih menyatakan pimpinan ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tewas setelah berusaha kabur, dan terjebak hingga akhirnya meledakkan rompi bunuh diri.

Media internasional juga memberitakan operasi khusus militer AS telah menewaskan sejumlah besar anggota ISIS lainnya, termasuk tiga anak al-Baghdadi.

Terkait pernyataan Trump, Suhardi Alius mengatakan Indonesia akan terus mengikuti perkembangan situasi dan bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk dengan perwakilan RI di perbatasan Suriah.

Baca juga:

Jaringan Indonesia

Badan Intelejen Negara (BIN) juga mengantisipasi adanya teror balasan dari kelompok radikal di Indonesia pascatewasnya pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi, beberapa hari lalu.

Juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto mengatakan, tewasnya Al-Baghdadi ini secara moral akan berpengaruh terhadap jaringannya di Indonesia.
Menurut Wawan, tewasnya Al-Baghdadi tidak serta merta melemahkan sel-sel terorisme di Indonesia.

Justru potensi teror balasan ini tetap ada lantaran hubungan ISIS dengan jaringan di Indonesia bersifat paternalisme. Apa yang dialami pimpinan ISIS, kata Wawan, berpotensi menyulut tindakan balasan bawahannya.

"Kita tetap melakukan upaya semaksimal mungkin melindungi publik dan segenap bangsa dan tumpah darah. Jadi kita tetap melakukan antisipasi-antisipasi supaya mereka itu juga dipersempit geraknya, sehingga tidak diberi keleluasaan untuk melakukan serangan-serangan," kata Wawan saat dihubungi KBR, Selasa (29/10/2019).

Baca juga:


Juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto, menambahkan, BIN bersama Densus 88 Antiteror Mabes Polri akan gencar melakukan penangkapan sebagai langkah antisipasi serangan yang direncanakan sel-sel terorisme di Indonesia.

Ia menyebut, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merupakan salah satu sel berafiliasi ISIS yang masih diantisipasi gerakannya.

"Ya paling kencang ya JAD ini. Kalau yang lain kan ndak terlalu. JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), dan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), misalnya, gak terlalu sekuat JAD. Dan Jamaah Ansharut Daulah ini kan lebih kepada amaliah untuk melakukan serangan-serangan gitu. Kalau yang lain-lain tidak seperti JAD. Bahkan JI (Jamaah Islamiah) yang kemarin muncul kenyataan juga tidak semasif apa yang dilakukan oleh JAD," jelasnya.

Wawan mengimbau masyarakat tetap tenang dan tak perlu menyikapi hal ini dengan kekhawatiran berlebih. Wawan berharap masyarakat secara aktif bisa melapor ke pihak berwenang jika menemui ada gerakan mencurigakan di sekitar rumahnya.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik

Hari Pneumonia Sedunia, Mari Cegah Pneumonia pada Anak

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14