Kebakaran Hutan dan Lahan Mulai Padam, Pemerintah Klaim Berkat Bantuan TMC

"Usaha pembahasan gambut ini perlu dilakukan terus menerus sehingga tahun depan tidak terjadi kebakaran lagi."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 01 Okt 2019 13:58 WIB

Author

Adi Ahdiat

Kebakaran Hutan dan Lahan Mulai Padam, Pemerintah Klaim Berkat Bantuan TMC

Santri melaksanakan salat minta hujan di Universitas Hasyim Asy'ari, Jombang, Jawa Timur, Senin (30/9/2019). (Foto: ANTARA/Syaiful Arif)

KBR, Jakarta- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah sejak berbulan-bulan lalu, kini mulai padam. Tingkat pencemaran udara akibat asap karhutla pun mulai berkurang.

Kabar baik ini disampaikan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo.

"Pantauan BNPB berdasarkan citra satelit Modis-catalog LAPAN pada Senin (30/9/2019), pukul 18.00 WIB menunjukkan kualitas udara membaik seiring dengan turunnya jumlah titik panas Sumatera dan Kalimantan," lapor Agus dalam rilisnya, Selasa (1/10/2019).

Penurunan jumlah titik panas terjadi di wilayah-wilayah karhutla terparah yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Pada September 2019 masih ada sekitar 1.374 titik panas di seluruh Indonesia. Tapi di awal Oktober 2019 jumlahnya sudah turun menjadi 673 titik panas.

"Data terakhir mencatat titik panas berjumlah 673. Titik panas tertinggi teridentifikasi di Kalimantan Selatan dengan 141 titik, Kalimantan Tengah 63, Sumatera Selatan 63 dan Jambi 15, sedangkan Riau dan Kalimantan Barat tidak terdeteksi adanya hotspot," kata Agus.


Dibantu Teknologi Modifikasi Cuaca

Hal serupa dilaporkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menurut KLHK titik panas karhutla berkurang berkat hujan yang turun sepekan belakangan.

Kompak dengan BNPB, KLHK pun mengklaim kemunculan hujan itu dibantu oleh Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Hingga 27 September 2019 kemarin, sebanyak 211.216 kg garam telah disemai untuk mempercepat pertumbuhan awan sehingga turun hujan. Upaya waterbombing juga terus dilakukan. Hingga kemarin, total 45 pesawat atau helikopter dikerahkan dan telah menggunakan 317.204.114 liter air untuk memadamkan api di seluruh kawasan Indonesia," kata Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi dalam rilisnya.

Meski sudah mulai padam, KLHK memastikan petugasnya akan tetap siaga di daerah rawan karhutla.

"Untuk Provinsi Riau, tim Manggala Agni, TNI, POLRI dan Masyarakat Peduli Api tetap menyiagakan 38 posko khusus di daerah rawan karhutla, dan masih dilakukan upaya pemadaman di Kecamatan Dumai Timur, Dumai Selatan, Medang Lampung, hingga Rengat," kata Hadi lagi.

Sejak Januari-Oktober 2019 luas total karhutla di seluruh Indonesia sudah mencapai 328 ribu hektare.

Bencana ini telah menyebabkan sekitar 144 ribu orang Indonesia terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta membuat ratusan sekolah di Malaysia tutup sementara karena terganggu kabut asap.

Tak ingin terulang lagi, Humas BNPB Agus Wibowo berharap ke depannya ada upaya serius untuk melindungi lahan gambut.

"Gambut perlu dikembalikan ke kodratnya, yaitu basah dan berair sehingga tidak mudah terbakar. Usaha pembahasan gambut ini perlu dilakukan terus menerus sehingga tahun depan tidak terjadi kebakaran lagi," kata Humas BNPB Agus Wibowo.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Ketika Seniman Teriak Anti Korupsi Lewat Karya

Hari Hak Asasi Manusia, Apa yang Diinginkan Keluarga Korban Pelanggaran HAM?

Kabar Baru Jam 8