Gubernur Papua: Mahasiswa Pulang Kampung Massal karena Takut Diawasi Aparat

“Polisi dan teman-teman dari BIN (mengawasi) mungkin tujuan mereka baik. Mereka mau melihat mahasiswa, namun dianggap intimidasi."

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Kamis, 19 Sep 2019 16:13 WIB

Author

Adi Ahdiat

Gubernur Papua: Mahasiswa Pulang Kampung Massal karena Takut Diawasi Aparat

Personel Brimob berjaga di sekitar Asrama Mahasiswa Nayak Abepura di Kota Jayapura, Papua, Minggu (1/9/2019). (Foto: ANTARA/Zabur Karuru)

KBR, Jakarta - Ribuan mahasiswa Papua yang kuliah di berbagai daerah Indonesia pulang kampung massal.

Menurut laporan yang diterima Gubernur Papua Lukas Enembe, mereka umumnya pulang kampung karena merasa takut diawasi aparat.

“Polisi dan teman-teman dari BIN (mengawasi) mungkin tujuan mereka baik. Mereka mau melihat mahasiswa, namun  dianggap intimidasi. Sehingga mesti ada pembicaraan bersama pihak terkait ,” ujar Gubernur Lukas, seperti dilansir situs resmi Pemprov Papua, Rabu (18/9/2019).

Baca Juga: Dua Ribu Mahasiswa Pulang Kampung, Gubernur Papua Akan Bangun Kampus Baru

Menurut Bupati Nduga Yairus Gwijangge, sekitar 500 mahasiswa dari wilayahnya pulang kampung karena merasa tidak nyaman, setelah terjadinya pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya bulan lalu (16/8/2019).

Bupati Deiyai Ateng Edowai juga menyampaikan hal serupa. Menurut laporan yang ia terima, mahasiswa asal Deiyai pulang kampung karena aparat melakukan penyisiran terhadap mahasiswa Papua di Pulau Jawa, setelah merebaknya kericuhan terkait isu rasisme.

Untuk membahas masalah tersebut, Gubernur Lukas berencana mengadakan pertemuan dengan Kapolri Tito Karnavian dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan di Jakarta.

Dalam dua pekan belakangan, jumlah mahasiswa Papua yang pulang kampung sudah mencapai sekitar dua ribu orang.

Menurut Sekjen Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) Januarius Lagowan, aksi pulang kampung massal ini adalah bentuk kekecewaan mahasiswa Papua terhadap pemerintah Indonesia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas

Kabar Baru Jam 15

Geliat Feminis Membangun Demokrasi

Geliat Feminis Membangun Demokrasi