Ceramah di Depan Jokowi, Quraish Shihab: Menunda Memberi Keadilan itu Zalim

"Menunda-menunda keadilan adalah kezaliman. Apakah adil memperlakukan seorang warga dalam sebuah negara dengan perlakuan yang berbeda dengan warga yang lain, di negara itu? Itu tidak adil."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 18 Sep 2019 13:02 WIB

Author

Dian Kurniati

Ceramah di Depan Jokowi, Quraish Shihab: Menunda Memberi Keadilan itu Zalim

Cendikiawan muslim Quraish Shihab. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)

KBR, Jakarta - Cendekiawan muslim Quraish Shihab menyebut negara dan pemimpin yang menunda memberi keadilan pada rakyatnya telah melakukan tindakan yang zalim atau aniaya.

Hal itu Quraish katakan saat berceramah pada acara pembukaan Forum Titik Temu, yang dihadiri tokoh lintas agama dan Presiden Joko Widodo.

Quraish mengatakan negara wajib memperlakukan setiap warganya dengan adil, tanpa membedakan agama, ras, suku, dan jenis kelamin.

Namun, ia tak merinci contoh keadilan yang belum tercapai pada lima tahun pemerintahan Jokowi.

"Adil juga bermakna memberi setiap orang haknya dengan cara yang benar dan secepat mungkin. Menunda-menunda keadilan adalah kezaliman. Apakah adil memperlakukan seorang warga dalam sebuah negara dengan perlakuan yang berbeda dengan warga yang lain, di negara itu? Itu tidak adil. Keadilan pada akhirnya disimpulkan dengan moderasi," kata Quraish di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Baca juga:


Quraish menilai negara tak boleh memperlakukan satu kelompok secara istimewa, tapi bersikap zalim pada kelompok lainnya.

Menurutnya, pemerintah juga berkewajiban menghilangkan semua tindakan zalim dari masyarakat, seperti terorisme.

Ia berkata, rakyat bukan hanya berhak mendapat keadilan secara benar, tetapi juga secepat mungkin dari yang negara bisa berikan.

Quraish berkata, Indonesia sudah memiliki titik temu tentang keadilan dalam Pancasila. Pada dasar negara itulah, kata Quraish, pemerintah harus menganut prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab.

Namun, kata dia, Islam juga telah mengajarkan nilai kemanusiaan yang harus tetap mendahului keagamaan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun