Share This

Presiden Ungkap Alasan Bergegas Bangun Infrastruktur di Luar Jawa

Presiden Joko Widodo menyatakan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dilakukan bukan semata berdasar untung-rugi segi bisnis.

BERITA , NASIONAL

Selasa, 25 Sep 2018 12:30 WIB

Presiden Joko Widodo (kiri) saat menerima penghargaan dari Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani (kanan) pada acara HUT ke-50 Kadin di Jakarta, Senin (24/9). (Foto: ANTARA/ M Adimaja)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo menyatakan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dilakukan bukan semata berdasar untung-rugi segi bisnis. Ia mengklaim langkah itu dilakukan demi pemerataan dan bukan untuk kepentingan politik guna mendulang suara jelang pencalonan kembali Jokowi pada Pilpres 2019.

Hal itu disampaikan Jokowi di hadapan parapengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Termasuk di antaranya pesaingnya pada kontestasi politik tahun depan, Sandiaga Uno.

"Mengelola negara sebesar ini tidak gampang. Kalau cara berpikir kita masih berhubungan dengan return, apalagi orang ekonomi, return ekonomi dan return politik, ya pembangunannya di Jawa," kata Jokowi di Hotel Ritz Carlton, Senin (25/9/2018).

Ia melanjutkan, jika pemerintahannya memikirkan bisnis dan politik belaka, maka pembangunan infrastruktur akan berhenti di wilayah Jawa. Sebab secara hitung-hitungan ekonomi dan politik, pembangunan di luar Jawa tidak menguntungkan.

"Kenapa kita harus membangun di Papua, kenapa harus bangun di Maluku Utara, kenapa harus bangun di NTT, kenapa harus bangun di Indonesia Timur? Karena kita bernegara, bukan berbisnis, bukan berekonomi saja," kata Jokowi.

Secara politik, sekitar 60 persen pemilih berada di Jawa. Sementara sisanya, tersebar di pulau-pulau lain. Sehingga secara elektoral, kata Jokowi, jika memang dia hanya berniat mendulang banyak suara pada Pilpres maka semestinya peningkatan kesejahteraan hanya dilakukan di pulau Jawa.

Adapun dari segi ekonomi, menurut Jokowi, pembangunan di Jawa sudah hampir lengkap. Misalnya infrastruktur, bandara sudah cukup. Sementara jalan tol, pelabuhan, dan pembangkit listrik hanya memerlukan sedikit tambahan. Sehingga, jika ingin mendorong ekonomi seharusnya ia cukup berfokus pada Pulau Jawa apalagi kalau mengingat selama ini Pulau Jawa menyumbang 59 persen untuk perekonomian nasional. Namun risikonya jika hanya mengembangkan di Jawa, maka jurang ketimpangan ekonomi antara pulau ini dengan lainnya bakal kian jauh.

Baca juga:


Tantang Pengusaha Bangun Tol dan Pelabuhan

Karena itu di depan para pengusaha, Presiden Joko Widodo menantang orang-orang yang tergabung dalam Kadin Indonesia untuk ikut membangun infrastruktur di luar Jawa. Seperti jalan tol dan pelabuhan.

Tantangan itu sekaligus disampaikan Jokowi untuk menanggapi keluhan pengusaha mengenai banyaknya proyek yang dikerjakan perusahaan BUMN, tanpa ditawarkan ke swasta. Menurut Jokowi, pengerjaan proyek infrastruktur di luar Jawa sangat mahal, sedangkan keuntungannya (internal rate of return/IRR) rendah.

"Siapa sih yang mau membangun jalan tol di Sumatera? Silakan maju, saya beri," kata Jokowi di Hotel Ritz Carlton, Senin (25/9/2018).

Jokowi mengatakan, perusahaan BUMN memiliki keluwesan mengerjakan proyek dengan IRR rendah, lantaran bisa mendapat suntikan dana dari Penyertaan Modal Negara (PMN).

"Tapi di sana itu memang IRR-nya kecil, rendah. Siapa yang mau? Kenapa BUMN yang mengerjakan? Karena disuntik PMN kalau swasta enggak bisa disuntik. Begitu juga pelabuhan di luar Jawa. Semua kecil-kecil IRR-nya."

Menurut Presiden, keterlibatan negara sangat diperlukan untuk membangun proyek infrastruktur tersebut. Ia beralasan, pembangunan di Indonesia, terutama di luar Jawa sangat tidak berkembang sehingga persaingan ekonomi di sana pun rendah.

Jokowi lantas membandingkan laju pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan negara lain. Ia berkata, pada awal 2015, jumlah bendungan di Indonesia hanya 231 bendungan, sedangkan di Amerika Serikat terdapat 6.000 bendungan dan di Cina mencapai 110 ribu bendungan.

Adapun jalan tol, sejak Indonesia membangun tol pertama bernama Jagorawi hingga awal, panjang jalan tol di Indonesia hanya 780 kilometer. Sedangkan pada periode yang sama, pembangunan jalan tol di Cina mencapai 280 ribu kilometer, atau sekitar 350 kali lebih cepat dibanding Indonesia.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.