Share This

Konferensi APACT ke-12 Dorong Indonesia Ratifikasi FCTC

Terkendala kondisi politik, FCTC tak kunjung diratifikasi.

BERITA , NASIONAL

Minggu, 16 Sep 2018 04:14 WIB

Penutupan Konferensi Asia Pasifik ke-12 tentang Rokok dan Kesehatan di Denpasar (15/9/2018). (Foto:

Penutupan Konferensi Asia Pasifik ke-12 tentang Rokok dan Kesehatan di Denpasar (15/9/2018). (Foto: KBR)

KBR, Denpasar - Konferensi Asia Pasifik untuk Tembakau dan Kesehatan (APACT) ke-12 ditutup Sabtu (15/9/2018) dengan 14 butir resolusi. Butir ke-3 resolusi itu secara khusus mendorong Indonesia untuk meratifikasi FCTC dalam waktu satu tahun.

“Untuk melindungi kesehatan dan ekonomi masyarakat dan supaya selaras dengan kawasan Asia Pasifik lainnya, Indonesia diharapkan meratifikasi FCTC dalam waktu satu tahun.”

FCTC adalah konvensi internasional dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk pengendalian tembakau. Di dunia sudah lebih 180 negara yang meratifikasi FCTC. Sampai saat ini Indonesia belum melakukannya. Dan pada tahun 2016 lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan tak mau meratifikasi FCTC hanya sekadar untuk ‘ikut-ikutan negara lain’.

“Indonesia belum meratifikasi FCTC, meskipun dulu termasuk kelompok yang merancang FCTC,” jelas Menteri Kesehatan sekaligus Penasihat Komnas Pengendalian Tembakau Nafsiah Mboi.

Kata dia, situasi politik yang membuat konvensi itu tidak pernah ditandatangani sampai saat ini.

“Ketika saya menjadi Menteri Kesehatan, saya diminta memformulasikan, lalu Presiden (saat itu dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono -red) berjanji akan menandatangani, tapi itu akhirnya tidak terjadi.”

Resolusi yang dihasilkan dari APACT ke-12 ini menyelaraskan butir-butir dalam FCTC dengan Target Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi pekerjaan rumah setiap pemerintah di seluruh dunia.

“Kita tetap berharap Indonesia meratifikasi FCTC. Tapi saya mulai merasa, mungkin jalur SDGs untuk melaksanakan pengendalian tembakau itu lebih mudah bagi pemerintah seperti Indonesia,” kata Judith MacKay, aktivis pengendalian tembakau internasional dari Vital Strategies.

“Jika itu jalan yang akan ditempuh Indonesia, saya dukung 100%.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.