TMP Kalibata Hampir Penuh, Pemprov DKI Didesak Bangun Pemakaman Pahlawan Baru

"Jadi perlu mulai dipikirkan, pemerintah daerah provinsi perlu membuat taman makam pahlawan sendiri, seperti semua provinsi yang lain."

BERITA , NASIONAL

Rabu, 07 Agus 2019 21:14 WIB

Author

Dian Kurniati

TMP Kalibata Hampir Penuh, Pemprov DKI Didesak Bangun Pemakaman Pahlawan Baru

Seorang veteran perang berdoa di depan makam rekan-rekannya di TMP Kalibata, Jakarta. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Negara Jimly Asshiddiqie meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menyiapkan taman makam pahlawan (TMP) baru di wilayahnya. Jimly beralasan TMP Kalibata saat ini hampir penuh. 

Jimly mengatakan, semua provinsi di Indonesia telah memiliki TMP di wilayah masing-masing, sedangkan DKI Jakarta justru tidak memilikinya. Jimly menyebut, lahan makam di TMP Kalibata diperkirakan bakal penuh dalam tiga tahun mendatang. 

"Di seluruh provinsi ada taman makan pahlawan yang dikelola pemerintah provinsi, kecuali DKI Jakarta belum punya. Di Jakarta, TMP Kalibata di bawah tanggungjawab Pemerintah Pusat. Jadi perlu mulai dipikirkan, pemerintah daerah provinsi perlu membuat taman makam pahlawan sendiri, seperti semua provinsi yang lain," kata Jimly di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Jimly mengatakan kapasitas TMP Kalibata sebanyak 10.939 makam. Saat ini sudah terisi 10.015 makam. Dengan demikian, masih tersisa 924 makam lagi, dan akan terus terisi rata-rata 200 hingga 300 makam per tahun. 

Jimly berencana menghubungi Gubernur DKI Anies Baswedan untuk membicarakan usul pembangunan TMP baru di Jakarta.

Jimly juga berkata, Presiden Joko Widodo telah pula meminta agar penganugerahan bintang jasa seperti "Mahaputra" diperketat, untuk mencegah TMP Kalibata penuh dalam waktu dekat. Pasalnya, masyarakat dengan anugerah bintang berhak untuk dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Editor: Fadli Gaper
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945