Jokowi Setuju 'Impor' Rektor, Fahri Hamzah Skeptis

Menristek mengaku sudah dapat izin Presiden untuk mendatangkan rektor asing. Tapi rencana ini dikritik Wakil Ketua DPR. "Jangan, sedikit-sedikit mengundang orang asing," katanya.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 01 Agus 2019 18:43 WIB

Author

Adi Ahdiat

Jokowi Setuju 'Impor' Rektor, Fahri Hamzah Skeptis

Ilustrasi: Lulusan perguruan tinggi. (Foto: Pixabay)

KBR, Jakarta- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek) Mohamad Nasir mengaku sudah mendapat izin Presiden Joko Widodo untuk mendatangkan rektor asing.

"Sudah saya sampaikan secara lisan, Bapak Presiden setuju," kata Menristek, seperti diberitakan Antara, Kamis (1/8/2019).

Menurut Menristek, rencana "impor rektor" itu kemudian akan dibawa ke rapat kabinet. Jika rapat menyetujui, selanjutnya akan ada perbaikan terhadap tata kelola serta perundang-undangan perguruan tinggi yang berlaku.

"Budget, sistem akan ditata. Undang-undang harus diperbaiki," kata Menristek.

Rencananya, penempatan rektor asing di kampus-kampus dalam negeri akan dimulai tahun 2020. Pada tahap awal akan diambil dua sampai lima perguruan tinggi untuk percontohannya.

"Bisa PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum), bisa swasta, akan dilihat dulu," kata Menristek.


Wakil Ketua DPR Kritik Impor Rektor

Di sisi lain, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah masih mempertanyakan manfaat dari "impor rektor" ini.

Menurut Fahri, para pakar dan ilmuwan Indonesia juga sanggup menjadi rektor di kampus kelas dunia seandainya diberi kesempatan.

"Persoalannya, bukan orang Indonesia atau orang asing yang menjadi rektor, tapi konsep pengembangan pendidikan perguruan tinggi yang perlu diperbaiki. Ini yang saya tanyakan kepada menterinya, ada nggak," kata Fahri, seperti dikutip Antara, Kamis (1/8/2019).

Menurut Fahri, perguruan tinggi negeri Indonesia bisa berkelas dunia jika konsep dan kebijakannya mendukung. "Jangan, sedikit-sedikit mengundang orang asing untuk ke Indonesia," katanya lagi.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945