Jelang Pilkada Serentak 2020, KPU Rancang Strategi Antisipasi Hoaks

Hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos menjadi yang paling fenomenal pada Pemilu 2019

NASIONAL | BERITA

Selasa, 20 Agus 2019 14:23 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Jelang Pilkada Serentak 2020, KPU Rancang Strategi Antisipasi Hoaks

KPU menggelar Focus Group Discussion di kantor KPU, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019). KPU bersama sejumlah pakar membahas strategi antisipasi hoaks menjelang Pilkada 2020. (Wahyu Setiawan/KBR)

KBR, Jakarta- Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah merancang strategi antisipasi penyebaran kabar bohong atau hoaks menjelang Pilkada 2020. 

KPU meminta masukan dari para pakar komunikasi hingga Cyber Crime Polri melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Mengukur dan Menganalisa Hoaks dan Ujaran Kebencian yang Muncul Saat dan Setelah Pemilu 2019" di kantor KPU, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019). 

Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, hoaks maupun ujaran kebencian perlu diantisipasi mengingat dua hal itu marak terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya. 

"Ada yang bagaimana men-screening berita-berita di media sosial. Ada yang bagaimana melakukan pencegahan agar tidak muncul hoaks. Ada yang melakukan penindakan. Mana kombinasi cara strategi yang paling pas bagi kita untuk spesifik urusan pemilu," kata Arief saat membuka FGD.

Arief berujar hoaks dalam pemilu bisa membuat situasi kacau. Ia mencontohkan hoaks soal 7 kontainer surat suara tercoblos yang mencuat awal tahun 2019. Penyebaran hoaks tersebut bisa menjatuhkan kredibilitas KPU sebagai lembaga independen penyelenggara Pemilu. 

Dalam kesempatan yang sama, Komisioner KPU Viryan Azis menyebut hoaks soal 7 kontainer surat suara tercoblos adalah yang paling fenomenal sepanjang Pemilu 2019. Menurutnya, dampak hoaks itu bahkan masih terasa sampai sekarang. 

"Ini jadi momentum baik bagi kami bukan saja membersihkan hoaks pemilu terkait legacy atau catatan sejarah Pemilu 2019. Namun, lebih jauh lagi terkait kepercayaan masyarakat terhadap pemilu dan demokrasi," tutur Viryan

Viryan ingat betul hoaks itu muncul pada 2 Januari 2019, saat KPU berencana mencetak surat suara. 

"Bayangkan kalau tanggal 2 Januari pagi hari pak Arief Budiman di satu perusahaan percetakan surat suara memencet tombol. Dimulai pencetakan surat suara untuk Pemilu 2019. Beberapa jam kemudian muncul berita itu, kita bisa bayangkan bagaimana distrust terhadap Pemilu 2019," ujar Viryan. 

Viryan berkata pola-pola hoaks serupa mungkin saja akan kembali muncul pada Pilkada Serentak 2020. Ia juga khawatir konflik horizontal akan makin banyak mengingat pesta demokrasi ini berada di level daerah. 

Viryan berharap diskusi dengan pakar dan pihak terkait akan menghasilkan formula tepat untuk mengantisipasi dan meminimalkan sebaran hoaks pada pemilu berikutnya.

 Editor : Ninik Yuniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13