Share This

Peringati Hari Kemerdekaan, Novel Baswedan Kecewa Kasusnya Belum Terungkap

"Karena sampai sekarang bukan cuma penyerangan terhadap saya saja yang dibiarkan berkeliaran atau tetap merdeka, tapi penyerangan-penyerangan yang lain pun juga dibiarkan."

BERITA , NASIONAL

Jumat, 17 Agus 2018 11:27 WIB

Ilustrasi: Antara

KBR, Jakarta- Pada hari ulang tahun Republik Indonesia, Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berharap, Presiden dan Kepolisian segera menuntaskan kasur penyiraman air keras pada dirinya. Ia juga berharap teror terhadap anggota KPK dapat segera diungkap.

Novel menilai, perlindungan bagi para pegawai KPK serta pegiat antikorupsi belum maksimal. Selain itu, kata dia, sejumlah kasus penyerangan yang menimpa pegiat anti-korupsi pun belum ada titik terang.

"Ya dalam banyak kesempatan saya menyampaikan bahwa saya sangat prihatin, kenapa kok seperti ini, tidak diungkap. Tentunya saya berharap tidak sekadar itu saja, serangan kepada orang-orang KPK bukan cuma saya dan yang lain-lain juga ada dan beberapa tidak diungkap," kata Novel kepada wartawan di gedung KPK usai Upacara kemerdekaan, Jumat (17/8/2018).

Lebih lanjut Novel menyayangkan, para pelaku penyerangan dirinya dan sejumlah anggota KPK masih berkeliaran bebas pada hari peringatan kemerdekaan ini.

"Karena sampai sekarang bukan cuma penyerangan terhadap saya saja yang dibiarkan berkeliaran atau tetap merdeka tapi penyerangan-penyerangan yang lain pun juga dibiarkan. Dukungan Presiden sangat penting. Kalau tidak didukung dengan sungguh-sungguh, hasilnya juga tidak akan optimal," imbuh Novel.

Sudah lebih dari satu tahun, kasus teror terhadap penyidik senior KPK itu diusut kepolisian. Novel Baswedan disiram air keras pada 11 April 2017 usai pulang salat subuh di Masjid di dekat rumahnya. KPK mengklaim selama ini terus berkoordinasi dengan Polri untuk mengungkap kasus tersebut. Tapi hingga kini pelaku dan otak penyerangan tak kunjung terungkap. Desakan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terus disuarakan untuk mengungkap kasus ini.

Baca juga:

Editor: Adia Puja Pradana 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.