Polemik Kalung Antivirus Korona

Tanggung jawab Kementerian Pertanian sesuai tugas pokok dan fungsi adalah memperkuat ketahanan pangan nasional.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 07 Jul 2020 21:24 WIB

Author

Muthia Kusuma Wardani, Heru Haetami, Wahyu Setiawan

Polemik Kalung Antivirus Korona

Tangkapan layar saat Mentan Syahrul Yasin Limpo saat menunjukkan kalung antikorona, Jumat (03/07/20). (Youtube: Kementan)

KBR, Jakarta- Kementerian Pertanian meminta dukungan untuk memproduksi kalung antivirus korona kepada Komisi Pertanian DPR. 

Dukungan itu disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat Rapat Kerja dengan DPR di Jakarta, Selasa (07/07/2020). 

Ia mengaku produksi kalung anti-korona berbahan dasar eucalyptus atau kayu putih sudah sesuai tugas pokok dan fungsi Kementan. 

"Keputusan dan tunjuk komisi ini akan menjadi pegangan saya lanjutkan kah atau tidak saya berhentikan saja hasil ini atau tidak. Kalau Bapak support saya jalan terus dan seperti apa support-nya kita bicarakan. Dan ini bukan service list. Oleh karena itu khusus nanti eucalyptus pun seperti, kalau Bapak bilang berhentikan saya berhenti," kata Syahrul saat Rapat Kerja dengan Komisi bidang Pertanian DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Ia mengklaim, riset pengembangan eucalyptus menjadi penangkal virus COVID-19 sudah mendapat dukungan dari beberapa perguruan tinggi, bahkan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ia menyebut, pekan ini akan ada penandatanganan kerja sama (MoU) dengan mereka.

"Bahwa besok kami akan tanda tangani MOU dengan IDI. Besok Pak, dengan UnHas, dengan UI, untuk melanjutkan riset ini. Pak izin dan tidak menggunakan APBN," katanya.


Jangan Gunakan APBN untuk Pengembangan Kalung Eucalyptus

Ketua Komisi bidang Pertanian DPR, Sudin mendukung pengembangan kalung eucalyptus dengan syarat.

"Selama tidak pakai uang APBN, silakan. Tapi kalau pakai APBN saya tidak mau. Apa jadinya nanti kalau gagal," kata Sudin.

Namun, Sudin mengingatkan, bahwa tanggung jawab Kementerian Pertanian sesuai tugas pokok dan fungsi adalah memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Karena itu, Sudin mendesak Kementan melakukan terobosan mulai dari perencanaan kegiatan program utama hingga perencanaan anggaran yang terbatas untuk meningkatkan produksi pangan.

"Bila kita bicara tentang ketahanan pangan, maka institusi yang paling bertanggung jawab adalah kementan, karena tupoksi utama Kementan adalah memproduksi hasil pertanian untuk ketahanan pangan," kata Sudin.

Belum Melalui Uji Klinis

Sehari sebelumnya dalam konferensi pers, Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry menjelaskan eucalyptus berpotensi menekan perkembangan virus korona. 

Produk kalung aromaterapi Balitbangtan itu, diformulasikan berbasis minyak eucalyptus, didesain dengan teknologi nano, dalam bentuk serbuk dan dikemas dalam kantong berpori.

"Apalagi ini penelitian yang sangat-sangat awal sekali, baru 2-3 bulan. Tapi ini sudah memberikan informasi kepada kita, ada peluang eucalyptus ini dimanfaatkan sebagai, potensi untuk menekan perkembangan korona. Saya tidak mengklaim COVID-19, karena kita tidak menguji pada COVID-19, kita hanya menguji pada korona model. Karena kita punya Alfa Corona, kita punya Beta Corona, kita punya Gamma Corona, ada juga sebenarnya Delta Corona. Dan COVID-19 ini, Sars-COVID-19 ini bagian dari Beta Corona," kata dia dalam konferensi pers di Balitbangtan, Senin (6/7/2020).

Kepala Badan Litbang Kementan Fadjry Djufry mengakui, produk kalung anti-virus korona belum melalui uji klinis sebagai antivirus. Produk itu baru melalui izin edar, dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai obat tradisional. 

Eijkman: Kami Tidak Punya Bukti Ilmiah

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman enggan mengomentari rencana Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang akan memproduksi massal kalung anti-virus korona. 

Kepala Lembaga Eijkman Amin Soebandrio menyatakan belum punya referensi kuat terkait khasiat eucalyptus atau kayu putih untuk membunuh virus korona.

"Saya kita lembaga Eijkman tidak akan memberi komentar tentang eucalyptus. Karena kami tidak memiliki referensi atau bukti ilmiah mengenai itu," jelas Amin saat dihubungi KBR lewat sambungan telepon, Senin (06/07/2020).

Sudah Kantongi Sertifikat Level Keselamatan Biologi

Jauh sebelum viral di masyarakat, produk kalung antivirus korona itu ternyata sudah dipatenkan Kementerian Pertanian, pada Mei lalu. Dalam proses produksinya, kementerian bekerja sama dengan PT Eagle Indo Pharma atau produsen Cap Lang.

Badan Litbang Kementerian Pertanian mengklaim, bahan dasar yang digunakan yaitu tanaman eucalyptus, bisa mencegah COVID-19, karena mengandung senyawa aktif "1,8 cineole" atau eucalyptol. Senyawa aktif cineole, bisa mengikat "M-pro", yang ada di virus korona jenis apapun. 

Kalung antivirus korona itu juga diklaim sudah melalui berbagai tahapan uji coba cukup lama. Bahkan sudah memiliki sertifikat level keselamatan biologi (Biosavety) Level 3 (BSL3), milik Balai Besar Penelitian Veteriner.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dari sekitar 700 pohon kayu putih yang diuji Badan Litbang, para peneliti berhasil menemukan jenis pohon kayu putih, yang bisa menangkal virus korona.

"Hasil lab kita ini untuk antivirus. Paling tidak bulan depan ini sudah dicetak. Ini sudah dicoba jadi ini bisa membunuh kalau kontak itu 15 menit, dia bisa membunuh 42% kalau setengah jam 80%," kata Syahrul melalui konferensi pers bersama Kementerian PUPR di laman Youtube resmi Kementerian Pertanian RI, Jumat, (4/7/2020).

Editor: Sindu Dharmawan

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Pemerintah Gagal Manfaatkan Peluang?