Jemaah Haji Indonesia Banyak yang Patah Tulang

"Jadi karena faktor kelemahan tenaga yang sudah kecapean lama berdiri, akhirnya terpeleset atau tersenggol sedikit jatuh."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 30 Jul 2019 13:29 WIB

Author

Adi Ahdiat

Jemaah Haji Indonesia Banyak yang Patah Tulang

Petugas kesehatan mendampingi pasien Andi (89), calon haji asal Makassar yang menderita demensia di Rumah Sakit KKHI Mekkah, Arab Saudi, Minggu (21/7/2019). (Foto: ANTARA/Hanni Sofia)

KBR, Jakarta - Kasus fraktur atau patah tulang pada jemaah haji Indonesia 2019 cenderung meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut laporan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, kasus ini banyak terjadi karena faktor kelelahan.

"Jadi karena faktor kelemahan tenaga yang sudah kecapean lama berdiri, akhirnya terpeleset. Atau tersenggol sedikit lalu jatuh," terang dr. Ali Setiawan, Direktur KKHI Makkah, dalam keterangan resminya, Senin (29/7/2019).

KKHI Makkah menyebutkan, kasus patah tulang ini terjadi karena jemaah terjatuh di berbagai lokasi seperti di hotel, bandara, bahkan terpeleset di kamar mandi.

"Kejadiannya karena saat itu jemaah mengalami sakit kepala atau penurunan kesadaran. Begitu juga yang terjadi ketika baru akan turun dari bus. Sementara ada juga kasus jemaah yang sedang salat di Masjidil Haram tiba-tiba terjatuh. Kasus-kasus tersebut akibat jemaah kehilangan keseimbangan tubuh. Umumnya lagi-lagi dipicu oleh kelelahan atau kekurangan cairan," tambah dr. Ali.


Jemaah Usia Lanjut Diimbau Hati-hati

Menurut laporan KKHI Makkah, hingga Senin (29/7/2019) ada 21 kasus patah tulang yang terjadi pada jemaah haji Indonesia, 15 kasus merupakan patah pergelangan tangan, 5 kasus patah tulang paha, serta 1 kasus patah lengan bagian bawah.

"Faktor usia juga menjadi pemberat kasus fraktur. Mengingat jemaah haji Indonesia mayoritas berusia lanjut. Mereka pada umumnya sudah mengalami osteoporosis, kandungan kalsium tulangnya kurang. Sehingga rentan dengan cedera yang minor saja dapat mengakibatkan terjadinya fraktur," jelas dr. Ali.

Tim kesehatan KKHI menangani pasien patah tulang dengan pemasangan gips atau operasi terbuka. Namun, proses pemulihannya memakan waktu cukup lama, sehingga pasien yang ingin melanjutkan ibadah haji harus menggunakan alat bantu.

"Jemaah haji yang sudah ditangani, baik yang hanya dipasang gips maupun yang harus dioperasi, masih bisa melakukan prosesi ibadah haji. Tetapi tentu dengan ditunjang alat bantu seperti tongkat atau kursi roda," jelas dr. Ali.

Agar kasus-kasus fraktur tidak terjadi lagi, KKHI mengimbau jemaah haji agar lebih hati-hati saat berkegiatan. 

"Jangan memaksakan diri untuk melakukan ibadah atau aktivitas lain secara berlebihan. Ukur kemampuan diri sendiri," pesan Direktur KKHI.

KKHI Makkah juga menyarankan jemaah haji untuk mencegah osteoporosis dengan cara mengonsumsi asupan makanan atau vitamin berkalsium tinggi.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Foto Ikatan Besar Mahasiswa UI Tidak Akui Jokowi - Ma'ruf Hoaks

Jokowi Didesak Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM di Periode Kedua

Kanker Payudara dan Tubuh Perempuan

Kabar Baru Jam 15