Cinta Laura Kiehl, Duta Anti Kekerasan Perempuan dan Anak

"Aku memang menaruh perhatian khusus pada kasus-kasus kekerasan yang banyak menyalahkan perempuan dan anak-anak," aku Cinta Laura Kiehl.

BERITA , NASIONAL

Senin, 29 Jul 2019 15:38 WIB

Author

Sadida Hafsyah

Cinta Laura Kiehl, Duta Anti Kekerasan Perempuan dan Anak

Cinta Laura Kiehl bersama sejumlah anak-anak. (Foto: Instagram @claurakiehl)

KBR, Jakarta - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) resmi menetapkan artis Cinta Laura Kiehl sebagai "Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak".

Sekretaris KemenPPPA Pribudiarta Nur Sitepu secara resmi menyematkan status tersebut kepada Cinta, pada Senin (29/7/2019) di Kantor KemenPPPA, Jakarta Pusat. "Cinta Laura sebagai duta, berkewajiban untuk melakukan sosialisasi kepada semua pihak mengenai upaya-upaya untuk menghindari dan menangani kasus kekerasan, baik secara langsung ataupun melalui media sosial," ujar Pribudiarta Nur Sitepu usai melakukan penyematan. 

Mengomentari penunjukan dirinya sebagai "Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak", Cinta mengaku dirinya memang menaruh perhatian khusus pada kasus-kasus kekerasan yang justru banyak menyalahkan perempuan dan anak. Itu juga yang menjadi alasan dirinya menerima untuk mengemban amanah sebagai "Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak".

Cinta mengatakan, sering terjadi ketidakadilan yang menimpa perempuan dan anak. "Banyak kasus, dimana misalnya ada sesuatu yang enggak fair terjadi kepada perempuan atau anak, kadang-kadang yang disalahin justru tetap perempuan atau malah mungkin anak-anaknya," ujarnya.

Itu tidak adil, tukas Cinta, sehingga patut dibuat kepedulian juga kewaspadaan dan awareness yang lebih kuat.

"Jadi aku ingin membuat awareness yang lebih kuat supaya perempuan-perempuan dan anak-anak Indonesia merasa lebih terlindungi oleh pemerintah dan orang-orang di sekitar," tutur Cinta.

Cinta berkomitmen untuk memperbaiki diri serta mendukung program pemerintah dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan. “Baik laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak, tidak boleh menjadi korban dan pelaku kekerasan karena setiap orang berhak diperlakukan secara adil dan setara,” terangnya.

Keluargamu, pesan Cinta, harus jadi tempat nomor satu untuk mengadu, bercerita, dan minta pendapat, bukan orang lain apalagi teman online. "Mari! jadikan keluarga sahabatmu. Perempuan dan Anak, jangan pernah merasa bersalah saat menjadi korban kekerasan, apapun bentuknya. Kejadian buruk yang menimpa bukan karena kesalahan kita, entah itu cara berbusana, berteman, berkendara, bekerja. Pelakulah yang punya masalah, kebetulan kita jadi korbannya,” tegas Cinta. 

Pada Hari Anak Nasional 23 Juli 2019 kemarin, Cinta mengunggah foto di akun instagramnya @claurakiehl. Antara lain, foto dirinya bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise.

Selain, foto Cinta bersama dengan anak-anak yang ia tambahkan keterangan: "Saya Cinta Laura Kiehl, Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, mengucapkan Selamat Hari Anak Nasional Tahun 2019 bagi seluruh anak-anak Indonesia di manapun berada."

Selain resmi menetapkan Cinta Laura Kiehl sebagai "Duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak", KemenPPPA juga menganugerahkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) kepada lima provinsi dan lima kabupaten/kota di Indonesia. Penghargaan untuk Pemerintah Provinsi diberikan kepada, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Barat. Sedangkan, untuk Pemerintah Kabupaten/Kota diberikan kepada Kabupaten Sleman, Kota Surakarta, Kota Balikpapan, Kota Bandung, Kabupaten Sidoarjo.

“Menyadari banyaknya kekerasan terhadap perempuan dan anak, Negara melalui Kemen PPPA merasa perlu menyelenggarakan layanan perlindungan terhadap korban perempuan dan anak melalui lembaga UPTD PPA di daerah,” ujar Pribudiarta.    

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945