Waspada, Ancaman Karhutla di Tengah Pandemi Covid-19

"Karhutla dapat memperburuk kondisi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, orang dengan kanker paru, pengidap asma. Di tengah covid-19, kelompok rentan tersebut akan memiliki beban ganda,"

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 13 Jun 2020 15:27 WIB

Author

Ardhi Rosyadi

Waspada, Ancaman Karhutla di Tengah Pandemi Covid-19

Bara api terlihat di lahan yang terbakar di daerah Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (17/9/2019). ANTARA FOTO/Hafidz Mu

KBR, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat pada Juni tahun ini terdapat 731 titik api di Indonesia. Catatan itu diperoleh melalui pemantauan Satelit Terra/Aqua.

Ratusan titik api ini muncul karena musim kemarau telah terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kepala Sub Direktorat Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL), Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, Anis Aliati menjelaskan dibanding periode yang sama tahun 2019, titik api tahun ini menurun hingga 335 titik. 

Hingga 11 Juni 2020, titik api terbanyak terdapat di Riau, Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan. 

"Potensi titik api lain yang muncul terdapat di Sumatera Selatan dan Jambi," ujar Anis Aliati dalam program Ruang Publik KBR , Jumat (12/06/20).

Pada Februari lalu, Presiden Jokowi menyatakan hampir 99 persen hutan dibakar secara sengaja. Anis  Aliati mengakui kebakaran ini disebabkan aktivitas manusia.

"Menurut pengamatan kami, modus yang teridentifikasi sebagai penyebab karhutla adalah pembukaan lahan yang dilakukan dengan pembakaran tidak terkendali. Pelakunya siapa, ya oknum masyarakat dan korporasi. Pembukaan lahan dilakukan untuk sejumlah kepentingan, misalnya budidaya, permukiman atau yang lainnya," tambah Anis.

Menyikapi adanya bencana karhutla yang muncul setiap tahun, Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bambang Hero Saharjo menegaskan pencegahan dan penanganan kebakaran harus dilakukan secara sinergi antar kementerian dan lembaga.

"Pengendalian kebakaran hutan dan lahan ini melibatkan banyak kementerian dan lembaga. Tidak hanya KLHK. Saat ini kebakaran lahan dan perkebunan itu berada di ranahnya Kementerian Pertanian. Setelah terjadi bencana asap, maka yang terlibat selanjutnya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," ujar Bambang dalam program Ruang Publik KBR, Jumat (12/06/20).

Bambang menambahkan kebakaran hutan dan lahan yang berulang itu karena faktor kesengajaan untuk pembukaan dan penyiapan lahan.

Baca Juga:

Awal Kemarau 2020, Luas Karhutla Capai 8 Ribu Hektare

BNPB: Kerugian Ekonomi Akibat Karhutla Capai Rp75 Triliun 

RUU Cipta Kerja Hapus Tanggung Jawab Pengusaha atas Karhutla 

Bambang Hero juga menyatakan perlu adanya audit kepatuhan yang dilakukan oleh pemerintah kepada korporasi yang terlibat dalam kebakaran hutan.

"Ketika tahun 2014, kami melakukan apa yang disebut dengan audit compliance atau audit kepatuhan terhadap 17 perusahaan perkebunan dan kehutanan di Riau, yang di dalam konsesi mereka kerap terjadi kebakaran. Hasilnya, hampir keseluruhan perusahaan tak patuh dalam memenuhi kewajiban penanganan kebakaran hutan dan lahan," imbuhnya.

Ia juga menyatakan bahwa audit kepatuhan pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak tegas dan disiplin. Dia berharap, perusahaan yang terbukti tak patuh mendapatkan sanksi administrasi.

Dampak Karhutla Indonesia

Bambang Hero yang juga Ketua Klaster Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di lembaga Asosiasi Profesor Indonesia (API) menjelaskan karhutla tahun lalu menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Jumlahnya mendekati emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pada 2015. 

"Eemisi gas rumah kaca yang dihasilkan, berdasarkan The Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) khususnya karbondioksida, mendekati emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 yang lalu," ujarnya.

Secara keseluruhan, luas lahan terbakar di Indonesia selama 2019 sebesar 942.485 hektare. Jumlah itu terbagi pada lahan gambut seluas 269.777 hektare dan lahan mineral seluas 672.708 hektare.

Ia menjelaskan karhutla juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Kebakaran hutan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir yakni tahun 2014-2015, menyebabkan 27 orang yang meninggal. Sementara di tahun 2019 jumlah tersebut turun namun angka meninggal tetap tidak dapat dicegah. 

Di rentang tahun yang sama data dari BNPB menyebutkan terdapat 424 ribu jiwa mengungsi akibat karhutla.

Bambang menambahkan, kerugian ekonomi juga menyasar Indonesia saat terjadi karhutla. Pada 2015, kerugian Indonesia mencapai lebih dari 200 triliun rupiah. Sementara pada 2019 mencapai 75 triliun rupiah.

Karhutla dan Risiko Terpapar Covid-19

Pemerintah daerah di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus segera bersiaga mencegah karhutla di tengah pandemi Covid-19. 

Ketua Pokja Paru dan Lingkungan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Feni Fitriani menjelaskan karhutla menimbulkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Hal ini bisa memperburuk kondisi pasien Covid-19 di wilayah terdampak karhutla, dan bisa meningkatkan risiko kematian.

"Karhutla dapat memperburuk kondisi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, orang dengan kanker paru, pengidap asma, darah tinggi, hingga stroke. Di tengah covid-19, kelompok rentan tersebut akan memiliki beban ganda," kata Feni kepada KBR.

Feni yang merupakan dokter spesialis paru ini juga meminta masyarakat di daerah rawan karhutla lebih aktif mencari informasi mengenai kondisi lingkungan sekitar. Dengan begitu, risiko paparan asap karhutla dapat diminimalisasi.

"Warga di daerah karhutla tentu lebih paham tanda-tandanya. Misalnya kalau lihat berita atau melihat jarak pandang. Mungkin ada tanda tertentu, kalau biasanya pada saat udara bersih gunung ini kelihatan atau gedung ini kelihatan. Tapi pada saat karhutla nggak kelihatan. Ini tanda paling simpel yang bisa digunakan masyarakat awam," imbuh Feni.

Feni meminta masyarakat untuk menggunakan informasi Air Quality Index (Indeks Kualitas Udara). Dengan melihat dua kriteria itu masyarakat dapat lebih berhati-hati jika harus berkegiatan di luar rumah. 

"Tetap memakai masker, perhitungkan urusan keluar rumahnya apa, apakah tidak bisa dihindari, ditunda dulu, kalau bisa ditunda. Kalau memang harus pergi pada saat karhutla dengan angka polusinya tinggi, tolong dipertimbangkan jarak tempuh, waktu tempuh di luar dan memakai masker yang memadai," puangkasnya. 

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Uji Coba Vaksin Sinovac Fase 3

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17