Inflasi Bulan Mei Tertinggi Sepanjang 2019, BPS: Terkendali

Inflasi Mei 2019 yang mencapai 0,68 persen merupakan inflasi tertinggi sepanjang tahun 2019. Namun jika dilihat dalam skala waktu lebih panjang, inflasi Mei 2019 ini terlihat masih wajar.

BERITA , NASIONAL

Senin, 10 Jun 2019 14:15 WIB

Author

Sadida Hafsyah, Adi Ahdiat

Inflasi Bulan Mei Tertinggi Sepanjang 2019, BPS: Terkendali

Suasana lapangan udara di Lombok International Airport (LIA), Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (2/5/2019). Kenaikan harga tiket pesawat menjadi salah satu pemicu inflasi Mei 2019. (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi/hp)

KBR, Jakarta - Inflasi bulan Mei 2019 yang dipantau oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam situasi yang terkendali. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan situasi ini terlihat dari angka inflasi bulan Mei 2019 sebesar 3,32 berdasarkan perhitungan tahun ke tahun (year on year/yoy), yakni berada di bawah target inflasi pemerintah di tahun 2019 sebesar 3,5 persen.

"Hasil pemantauan BPS di 82 kota pada bulan Mei 2019, terjadi inflasi sebesar 0,68 persen. Sementara inflasi tahun ke tahun (yoy) adalah 3,32 persen. Saya akan simpulkan bahwa inflasi Mei 2019 terkendali," kata Suhariyanto hari ini, Senin (10/6/2019).

Realisasi inflasi bulan Mei 2019 sebesar 0,68 persen, mengalami kenaikan jika dibandingkan April 2019 yang sebesar 0,44%. 

Kepala BPS Suhariyanto memaparkan bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Mei menjadi salah satu faktor penyebab karena biasanya kenaikan harga terjadi pada minggu pertama dan minggu terakhir bulan Ramadhan. Selanjutnya Suhariyanto memperkirakan, inflasi bulan berikutnya akan mengalami penurunan.

"Penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga cabai merah, daging ayam ras, bawang putih dan tarif angkutan antar kota, udara, dan kereta api," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta (10/6/2019).

Menurut Kepala BPS, kenaikan harga sejumlah komoditas itu dipengaruhi peningkatan konsumsi masyarakat sejak bulan Ramadan hingga menjelang lebaran.

Secara umum terjadi kenaikan harga komoditas karena permintaan tinggi di bulan Mei 2019 mengalami kenaikan harga yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tetapi Suhariyanto menjelaskan kenaikan inflasi bulan Mei 2019 dibandingkan bulan lalu, terutama didorong oleh tingkat inflasi dari (1) bahan makanan, (2) makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, serta (3) transpor, komunikasi, dan jasa keuangan. Sepanjang bulan Mei 2019, inflasi atau penurunan nilai mata uang terjadi sebesar 0,68 persen. Jumlah ini lebih besar dibanding inflasi pada Mei tahun lalu yang hanya 0,21 persen. 

Komoditas lain yang ikut mempengaruhi inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, tembakau, perumahan dan juga pakaian.

Namun ada juga satu komoditas yang harganya turun, yaitu bawang merah. Kepala BPS menyebut, penurunan harga bawang merah disebabkan oleh panen raya di Brebes, Jawa Tengah.

Menurut data BPS, sepanjang Mei 2019 ada 81 kota yang mengalami inflasi, dan hanya satu kota yang mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Tual, Maluku, sebesar 2,91 persen akibat kenaikan harga berbagai jenis ikan dan angkutan udara. Sedangkan deflasi terjadi di Merauke, Papua, karena ada penurunan harga komoditas sayuran dan beras.


Inflasi Mei Tertinggi Sepanjang 2019

Inflasi Mei 2019 yang mencapai 0,68 persen merupakan inflasi tertinggi sepanjang tahun 2019. Namun jika dilihat dalam skala waktu lebih panjang, inflasi Mei 2019 ini terlihat masih wajar.

Sebagai perbandingan, saat krisis moneter 1998 lalu tingkat inflasi tahunan mencapai 77,63 persen atau rata-rata 6,4 persen per bulannya. Di tengah inflasi sebesar itu, harga-harga komoditas naik drastis hingga menjadi salah satu pemicu kerusuhan besar.

Dan menurut data BPS, dalam lima tahun belakangan inflasi tertinggi hanya mencapai nilai 8,36 persen per tahun 2014 atau rata-rata 0,6 persen per bulannya.

Kemudian sepanjang 2015 – 2018, tingkat inflasi cukup stabil di kisaran 3,02 – 3,61 persen per tahun, dengan rata-ratanya di kisaran 0,3 persen per bulan. Jauh lebih rendah dari tingkat inflasi yang pernah memicu krisis ekonomi nasional.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak