Evaluasi Mudik Lebaran 2019: Rest Area Perlu Didesain Ulang

Evaluasi penting mulai dari desain rest area sampai waktu arus balik yang sempit.

BERITA , NASIONAL

Rabu, 12 Jun 2019 15:18 WIB

Author

Adi Ahdiat

Evaluasi Mudik Lebaran 2019: Rest Area Perlu Didesain Ulang

Polisi menutup rest area Candiareng KM 344 yang sudah dipenuhi pemudik, di Tol Trans Jawa, Kab. Batang, Jawa Tengah, Sabtu (1/6/2019). (Foto: ANTARA/Harviyan Perdana Putra/ama)

KBR, Jakarta - Rest area alias area peristirahatan di jalan tol dianggap perlu didesain ulang karena mengakibatkan penumpukan kendaraan. 

Ini adalah salah satu evaluasi arus mudik Lebaran 2019 yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 

“Kita evaluasi desain untuk parkir lebih disiapkan khusus, tidak menyebar di semua ruang rest area. Perilaku pengendara umumnya, misalnya jika ingin ke toilet, maka parkirnya juga harus dekat dengan toilet sehingga menumpuk. Untuk itu akan kita coba atur agar parkir kendaraan di rest area agak jauh dari pertokoan sehingga lebih teratur,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam rilisan persnya, Rabu (12/6/2019).

Posisi rest area pada ruas jalan tol antar kota juga dinilai terlalu dekat dengan pinggiran jalan, sehingga kerap menimbulkan kemacetan.

“Akan lebih baik jika desainnya menjorok ke dalam, terutama untuk jalan tol antar kota yang masih memungkinkan ketersediaan lahannya,” ujarnya.

Setelah masalah desain rest area, Menteri Basuki menyinggung padatnya pemudik yang menggunakan jalan tol.

“Seberapapun banyaknya rest area, tidak akan cukup dengan kondisi existing yang seperti ini. Sebagai ilustrasi, rest area di Palimanan dan Kalikangkung, kondisi normal menampung 17 ribu kendaraan, namun pada saat mudik kemarin naik 4 kali lipat jadi 68 ribu kendaraan,” jelasnya.

Penerapan sistem satu arah yang memungkinkan penggunaan rest area di kedua sisi pun, menurut Menteri PUPR, masih belum cukup menampung seluruh pemudik yang hendak mampir.


Waktu Libur Sempit

Selain soal rest area, Menteri Basuki menyoroti sempitnya waktu libur, yang membuat arus balik lebih padat dari arus berangkat.

“Pada saat mudik, arus lalu lintas dari satu titik, yakni Jakarta menyebar ke berbagai daerah seperti halnya irigasi. Tetapi pada arus balik, lalu lintas seperti drainase, dari beberapa titik menuju ke satu titik kembali ke Jakarta dan pada waktu hampir bersamaan sehingga manajemen waktunya ketat sekali," kata Menteri Basuki.

"Waktu saat arus mudik 4-5 hari, sedangkan arus balik hanya 2-3 hari saja,” tukasnya.

Namun demikian Menteri Basuki mengapresiasi penerapan sistem one way. Ia menilai sistem ini tak hanya membantu mengurai kemacetan, tapi juga membawa keuntungan bagi pedagang di sepanjang jalan.

“Positifnya adalah pada saat arus mudik diberlakukan satu arah dari Jakarta, maka pengendara dari Timur ke Barat diharuskan masuk ke jalan nasional sehingga berdampak warung-warung dan toko oleh-oleh banyak dikunjungi, begitupun sebaliknya saat arus balik,” tuturnya.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Perdana, Perselisihan Hasil Pemilu

10 Tahun UU Narkotika: Seperti Apa Implementasinya?

Sidang Perdana Sengketa Pemilu

Cek Fakta: Misleading Content KPU Panik

What's Up Indonesia