Bappenas: Bila Situasi Politik Tidak Cepat Reda, Investasi Bisa Melemah

Situasi politik pasca Pemilu 2019 yang diwarnai tuduhan kecurangan, sengketa antar Capres, hingga kerusuhan, bisa berimbas pada perekonomian nasional.

BERITA | NASIONAL

Senin, 17 Jun 2019 14:13 WIB

Author

Adi Ahdiat

Bappenas: Bila Situasi Politik Tidak Cepat Reda, Investasi Bisa Melemah

Seorang Warga Negara Asing (WNA) memotret Panser Anoa milik TNI yang disiagakan di kawasan Glodok, Jakarta, saat sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi, Jumat (14/6/2019). (Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra)

KBR, Jakarta - Situasi politik pasca Pemilu 2019 yang diwarnai tuduhan kecurangan, sengketa antar Capres, hingga kerusuhan, bisa berimbas pada perekonomian nasional.

Hal itu tergambar dari laporan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) berjudul Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan I Tahun 2019 yang dirilis Mei 2019.

Di laporannya, Bappenas menyebut bahwa ketidakpastian pasca Pemilu nasional menjadi salah satu risiko negatif yang membayangi perekonomian Indonesia.

Di satu sisi, Bappenas memproyeksikan bahwa pertumbuhan investasi akan relatif terjaga pada tingkat 6,2 persen.

“Namun, bila suasana politik tidak kembali mereda dengan cepat, maka realisasi pertumbuhan investasi dapat lebih rendah dari perkiraan,” tulis Bappenas.


Risiko yang Membayangi Perekonomian Indonesia

Di samping ketidakpastian situasi politik, Bappenas juga menjelaskan sejumlah risiko negatif atau faktor-faktor yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok disebut bisa menghambat pertumbuhan ekspor serta masuknya aliran investasi. Selain itu, penurunan harga komoditas internasional, menurut Bappenas terutama terjadi pada komoditas utama Indonesia, yakni minyak sawit dan batu bara. Harganya cenderung menurun dibanding tahun 2018. Turunnya harga batu bara juga terkait kebijakan proteksi impor yang diterapkan Tiongkok.

Selain itu ada juga soal realisasi pendapatan negara lebih rendah dari target. Tahun 2018 lalu pendapatan negara tumbuh sebanyak 15,3 persen. Namun sampai April 2019, pendapatan negara baru tumbuh 0,6 persen saja. Hal ini memunculkan risiko dalam penyesuaian belanja negara.

Kinerja sektor migas yang belum pulih juga ikut menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Bappenas, sepanjang Triwulan I 2019, industri pengolahan migas mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 4,2 persen. Jika tidak ada perbaikan, maka pertumbuhan migas bisa lebih rendah dari tahun sebelumnya.


Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Delapan Kabupaten dan Satu Kota di Papua Dinilai Buruk Dalam Pelayanan Kesehatan

Pemerintah Hong Kong Resmi Cabut RUU Ekstradisi

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19