Anak Kelab Malam Sampai Anak Jalanan Pakai Narkoba, Apa Alasannya?

“Dua kelompok yang kontras ini menggambarkan luasnya jangkauan pemakaian narkoba di kalangan anak muda.”

BERITA | NASIONAL

Rabu, 26 Jun 2019 15:32 WIB

Author

Adi Ahdiat

Anak Kelab Malam Sampai Anak Jalanan Pakai Narkoba, Apa Alasannya?

Ilustrasi: Narkoba jenis kokain yang tergolong sebagai club drugs. (Foto: Pixabay)

KBR, Jakarta- Penyalahgunaan narkoba dilakukan banyak kalangan, mulai dari kaya-miskin, tua-muda, maupun pria-wanita.

Setiap kelompok punya “gaya” serta alasan konsumsi narkoba yang berbeda. Namun menurut United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), pemakaian narkoba paling ekstrem terdapat di dua kelompok sosial, yakni: penikmat kehidupan malam dan anak-anak jalanan.

“Dua kelompok yang kontras ini menggambarkan luasnya jangkauan pemakaian narkoba di kalangan anak muda,” jelas UNODC dalam World Drug Report 2018.


Bersenang-senang dan Melupakan Trauma

UNODC menjelaskan, ada golongan narkoba yang disebut club drugs meliputi ekstasi, kokain, LSD, GHB, ketamine dan methamphetamine.

Club drugs banyak dikonsumsi di negara-negara kaya. Konsumennya adalah orang-orang berduit dan pemakaiannya biasa dilakukan di kelab-kelab malam, pesta privat, atau konser musik, dengan tujuan bersenang-senang dan menambah efek kegembiraan.

Sedangkan di kalangan anak jalanan, narkoba yang banyak digunakan adalah golongan inhalants, yakni uap bahan kimia seperti cairan pengencer cat (thinner), uap bensin, atau uap lem.

Menurut UNODC, banyak anak jalanan yang “mabuk lem” untuk melupakan kesulitan hidup dan trauma mereka.

“Banyak anak jalanan yang terpapar kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Penggunaan narkoba adalah cara mereka untuk bertahan dalam kehidupan jalanan yang keras,” jelas UNODC.

Anak jalanan dan kelompok rentan lainnya juga rawan terlibat dalam perdagangan narkoba.

Seperti dijelaskan UNODC, “Kaum muda yang terjebak kemiskinan atau kelompok rentan lainnya seperti imigran, rawan direkrut oleh kelompok kejahatan terorganisir dan dipaksa bekerja dalam produksi serta perdagangan (narkoba) di tingkat lokal,” jelasnya.

Karena itu, UNODC menyebutkan perlunya pemahaman menyeluruh dalam menghadapi masalah narkoba.

“Kita perlu berinvestasi dalam meningkatkan pemahaman tentang sifat dan penyebab masalah (narkoba) untuk membantu mengembangkan layanan pencegahan, perawatan serta rehabilitasi untuk meminimalkan masalah kesehatan terkait narkoba,” jelas UNODC.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Jelang Pelantikan Presiden, Dari Pengamanan Hingga Larangan Demo

20 Tahun Lagi, Lapisan Tanah Subur di Dataran Dieng Diperkirakan Terkikis Habis

Kabar Baru Jam 8

PM Selandia Baru Akan Bersihkan Konten Ekstrimis di Dunia Online