Elsam Papua Catat Sejumlah Noda Tito

Kasus lainnya yaitu penyerangan pos polisi di Tinggi Nambut yang mengakibatkan kepolisian menyisir dan membakar rumah warga.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 16 Jun 2016 08:45 WIB

Author

Gilang Ramadhan & Yudhi Rachman

Tito Karnavian (Foto: polri.go.id)

Tito Karnavian (Foto: polri.go.id)

KBR, Jakarta- LSM HAM Elsam Papua mencatat ada beberapa kasus kekerasan yang terjadi saat Tito Karnavian menjabat Kapolda Papua pada 2012-2014. Direktur Elsam Papua, Ferdinand Marisan mengatakan, salah satu kasus yang mencuat yaitu penembakan orang tidak dikenal di Papua. Kasus lainnya yaitu penyerangan pos polisi di Tinggi Nambut yang mengakibatkan kepolisian menyisir dan membakar rumah warga. Dalam kejadian itu beberapa warga mengalami kekerasan dan tewas. 

"Pertama itu satu kasus penembakan, penembakan di Puncak Jaya, Mulia di masanya Tito. Ada juga kasus penembakan lain dan penyerangan pos di Tinggi Nambut, Mulia dan kemudian polisi menyisir rumah-rumah di kampung dan bakar rumah. Beberapa masayrakat terbunuh," jelas  Direktur Elsam Papua, Ferdinand Marisan kepada KBR, Rabu (15/6).

Ferdinand Marisan menambahkan, selama kepemimpinan Tito Karnavian, kepolisian juga kerap melakukan kekerasan. Hal itu membuat aktivis pergerakan kemerdekaan Papua mengalami ketakutan dan trauma.

"Saat kepemimpinan Tito juga, beberapa aktivis mengalami ketakutan. Seperti contoh KNPB yang tidak memiliki ruang untuk melakukan demontrasi. Kalau pun ada langsung ditangkap. Dia menekan para aktivis untuk takut dan bersuara. Dia telah melanggar UU kebebasan berekspresi di republik ini. Memang dia mampu membuat tekanan psikologi bagi kelompok perjuangan kemerdekaan di Papua," katanya.

Presiden Joko Widodo telah menunjuk Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri. Penunjukkan ini menyusul berakhirnya jabatan Kapolri Badrodin Haiti yang memasuki usia pensiun.

Penunjukan tersebut dikhawatirkan pengamat kepolisian dari POINT Indonesia, Karel Susetyo, akan memecah kekompakan internal Polri. Sebab, menurut Karel di Kepolisian sudah ada merit system (penilaian kinerja) yang selama ini berlaku di Kepolisian Indonesia dalam pergantian Kapolri. Selain itu, Tito merupakan jenderal muda dibandingkan jenderal senior di tubuh kepolisian.

Menanggapi hal itu, juru bicara Kepolisian Indonesia, Boy Rafli Amar, memastikan tidak ada masalah di internal Polri walaupun Tito melangkahi lima angkatan seniornya. Tito merupakan jenderal bintang tiga yang angkatannya paling muda yakni Akpol 87.

"Insyaallah tidak ada masalah, internal patuh dan loyal apa yang diputuskan Presiden. Jadi keraguan itu tidak akan terjadi. Roda organisasi akan berjalan normal setelah ada pergantian," kata Boy di Mabes Polri, Rabu (15/06/16).

Boy mengatakan, Mabes Polri menghormati keputusan Presiden Jokowi yang mengajukan Tito sebagai calon tunggal Kapolri. Tidak ada masalah antara senior dan junior Akpol.

"Yang jelas sekarang sudah ada keputusan terkait calon Kapolri. Kita tunggu tahapan selanjutnya," ujar Boy.

Tito baru dilantik Jokowi sebagai Kepala BNPT pada 16 Maret 2016 lalu. Pangkat Tito pun baru dinaikkan menjadi bintang tiga pada 12 April 2016. Berselang dua bulan, Ketua DPR RI Ade Komarudin menyebut Jokowi menyerahkan nama Tito ke DPR sebagai calon tunggal Kapolri.

Editor: Sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8