Indonesia Bangun Satelit Terbesar se-Asia, Tapi Bukan untuk Pulau Jawa

Satelit internet terbesar se-Asia ini nantinya bisa menjangkau 150 ribu titik di Indonesia. Tapi, antenanya tidak akan dibangun di Pulau Jawa.

BERITA , NASIONAL

Senin, 06 Mei 2019 16:48 WIB

Author

Adi Ahdiat

Indonesia Bangun Satelit Terbesar se-Asia, Tapi Bukan untuk Pulau Jawa

Menko Perekonomian, Darmin Nasution (kiri), Menteri Kominfo, Rudiantara (tengah) dan Dirut PT Satelit Nusantara Tiga, Adi Rahman Adiwoso (kanan) dalam acara penandatanganan perjanjian proyek SMF SATRIA, Jakarta (3/5/2019) (Foto: ANTARA/Dhemas Revivanto).

Pemerintah Indonesia baru saja menandatangani perjanjian proyek konstruksi Satelit Multi Fungsi (SMF) yang dinamai Satelit Republik Indonesia (SATRIA).

Jika proyek SMF SATRIA rampung sesuai target, maka di tahun 2022 nanti Indonesia akan memiliki satelit internet terbesar di Asia.

“Satelit ini merupakan yang pertama di Asia, yang terbesar untuk kelas biasa 100 giga,” ujar Menteri Kominfo, Rudiantara, dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama, Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Satelit Multifungsi di Museum Nasional, Jakarta (3/5/2019).

“Tadi saya diberitahu, ini nomor lima (terbesar) di dunia dari sisi kapasitas. Dari sisi kebutuhan, ini akan meningkatkan lagi posisi Indonesia, bahwa kita ini negara yang memang dilandasi oleh infrastruktur komunikasi, terutama internet satelit,” tambahnya.


SMF SATRIA Bukan untuk Pulau Jawa

SMF SATRIA adalah satelit internet berkapasitas 150 Gbps, yang dibangun dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS) dan frekuensi Ka-Band.

Dengan teknologi tersebut, transmisi data bisa dilakukan sangat cepat dengan tingkat latency (jeda waktu) yang sangat minim.

Teknologi ini disebut sangat cocok untuk video conference, video telephone, data broadcasting, tele-medicine, tele-education, serta berbagai kebutuhan transmisi data besar lainnya.

Menurut rilisan Kominfo, layanan SMF SATRIA nantinya bisa menjangkau 150 ribu titik yang tersebar di wilayah Indonesia. Tapi, antena penerima gelombangnya tidak boleh dibangun di Pulau Jawa.

“Dari 150 ribu titik ini kita membutuhkan 150 ribu antena, namun dengan catatan tidak boleh dibangun di Pulau Jawa, tapi kita harus distribusikan ke daerah. Mungkin ada lima lokasi dengan 30 ribu (antena) masing-masing. Dengan skala ekonomi cukup ini akan menunjang pengembangan ekonomi daerah. Berikan otonomi kepada daerah jangan hanya berpusat di Jawa,” jelas Rudiantara (3/5/2019).

Kominfo menyebut, satelit ini akan dimanfaatkan untuk pemerataan konektivitas serta peningkatan layanan publik di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). 


Harga Rp21 Triliun untuk Masa Pakai 15 Tahun

Kominfo menyebut, SMF SATRIA akan menyedot anggaran sebesar Rp21 triliun untuk masa pakai selama 15 tahun.

“Angka 21 triliun ini adalah angka untuk membangun, meluncurkan, mengoperasikan, dan memelihara dalam waktu 15 tahun,” jelas Rudiantara (3/5/2019).

Proyek ini didukung dan dimonitor oleh Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta Kementerian Kominfo yang berperan sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK).

Pihak yang menjadi Badan Usaha Pelaksana (BUP) dan bertanggungjawab dalam proses pengadaan adalah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo.

Sementara proyeknya akan dikerjakan oleh konsorsium yang terdiri dari PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, serta PT Nusantara Satelit Sejahtera.

(Sumber: https://kominfo.go.id)

Editor: Agus Luqman
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.5: Kuliah di Iran, Cerita dari Bahesty Zahra

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17